<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Resensiana &#124; Meresensi Buku</title>
	<atom:link href="http://resensiana.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://resensiana.com</link>
	<description>bicara buku</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 May 2010 19:58:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Valharald &#8211; Adi Toha</title>
		<link>http://resensiana.com/valharald-adi-toha/</link>
		<comments>http://resensiana.com/valharald-adi-toha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 19:56:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[adi toha]]></category>
		<category><![CDATA[diva press]]></category>
		<category><![CDATA[valharald]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://resensiana.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Judul : VALHARALD : Ksatria Talismandala dan Pertempuran di Vincha
Pengarang : Adi Toha
Penerbit : Diva Press
ISBN : 97860295*****
Tebal : 411 Halaman
Sinopsis (1)
VALHARALD adalah sebuah novel fiksi fantasi karya Adi Toha. Berkisah tentang perjalanan dan petualangan 12 Ksatria Talismandala dalam menjalani misi dan takdirnya sebagai ksatria cahaya, menyelamatkan negeri VarchLand dari Kekuatan Kegelapan. Kedua belas Ksatria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/05/Valharald-Cover-214x300.jpg"><img class="alignright" title="cover" src="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/05/Valharald-Cover-214x300.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Judul : VALHARALD : Ksatria Talismandala dan Pertempuran di Vincha<br />
Pengarang : Adi Toha<br />
Penerbit : Diva Press<br />
ISBN : 97860295*****<br />
Tebal : 411 Halaman</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sinopsis (1)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">VALHARALD adalah sebuah novel fiksi fantasi karya Adi Toha. Berkisah tentang perjalanan dan petualangan 12 Ksatria Talismandala dalam menjalani misi dan takdirnya sebagai ksatria cahaya, menyelamatkan negeri VarchLand dari Kekuatan Kegelapan. Kedua belas Ksatria Talismandala ini merupakan orang-orang yang terpilih dengan keunikan dan karakteristik tersendiri dari beragam suku. Menjadi istimewa dengan jati diri dan latar belakangnya masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanannya 12 Ksatria Talismandala tersebut dibekali oleh sebuah kunci berbentuk segitiga yang berfungsi untuk membuka senjata rahasia dan peralatan perang yang telah lama tersimpan di tempat yang juga terahasia. Disamping senjata dan peralatan rahasia tersebut, tersimpan pula Mahkota Liafala, mahkota tertinggi negeri Varchland.</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali itulah yang ingin disampaikan dalam kisah Valharald. Dua belas ksatria bisa jadi adalah diri kita yang tengah terpanggil untuk melakukan sebuah perubahan besar dalam hidup, namun kita selalu saja dilanda pertanyaan-pertanyaan: benarkah saya harus berubah? Beranikah kita untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidup kita?</p>
<p style="text-align: justify;">Melawan atau Mati!</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-92"></span><br />
<strong>Mutiara Kecil itu…</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kejadian demi kejadian dalam hidup membawa kita kepada satu titik. Jika kita melihat ke belakang dan menyadari sepenuhnya bahwa tibanya kita di satu titik itu adalah sebuah keharusan. Kita akan semakin yakin untuk melangkah ke titik-titik selanjutnya. Meski kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita temui di titik-titik itu.</em> (2)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kau tidak bisa menjanjikan apa yang belum tentu kau dapatkan. Jangan pernah menjanjikan itu. Kadang takdir tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. Apa yang telah kita harapkan, apa yang kita janjikan, apa yang telah kita nanti-nantikan semuanya bisa hilang dan musnah dalam sekejap.</em> (3)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Untuk apa kita takut pada sesuatu yang belum jelas keberadaannya? Kalau pun mereka memang ada, belum tentu mereka akan menyerang kita. Siapa tahu justru mereka akan membantu kita untuk menyelesaikan ujian nanti&#8230;</em> (Dialog Fionn). (4)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jangan pernah menyesali apa yang telah dilenyapkan oleh waktu, ia tidak akan pernah kembali, ia tidak akan pernah kita jumpai lagi karena apa yang telah dilenyapkan oleh waktu sungguh telah berada pada sebuah tempat yang sangat jauh&#8230;.</em> (5)</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah beberapa penggalan kata-kata filosofis yang menarik perhatian saya dan bahkan saya dokumentasikan sendiri. Tak banyak namun cukup. Saya katakan beginilah seharusnya sebuah cerita dikisahkan. Ketika membaca Valharald, saya menjadi teringat masa-masa ketika paman saya memberikan dongeng sebelum tidur. Atau mungkin seperti inilah tepatnya ketika seorang penutur di masa itu menceritakan dongeng kepada anak-anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Valharald tidak hanya menuturkan cerita atau sekedar curahan hati. Ketika seorang pencerita asyik pada dunianya terkadang ia terjebak pada dunia eksklusifnya, membentengi diri pada pembacanya, tidak mempunyai kontak dengan penikmatnya. Penikmat sering kali dibuat bingung dengan kelebatan-kelebatan peristiwa atau gaya tuturan yang terlalu “aku”. Valharald berusaha menyentuh saya ketika penulis menyisipkan kata-kata atau pesan-pesan filosofisnya secara halus. Bahkan, saya merasa sedang berdialog dengan tokoh tersebut. Menemukan kata-kata filosofis seperti yang saya coba bocorkan di atas, menjadi sebuah “harta karun” kecil yang membuat saya keasyikan dalam dunia Valharald, dan tidak merasa digurui.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata filosofis itulah yang saya akui menjadi semacam “reward” kecil ketika saya “dibujuk” tanpa sadar oleh penulis untuk semakin menyelami petualangan demi petualangan, cerita demi cerita, bahkan pertarungan demi pertarungan dari tokohnya. Saya bahkan tidak segan mencatat ulang, mendokumentasikan kata-kata filosofis itu. Novel ini tidak hanya menjadi semacam penghibur namun juga memancing saya untuk membaca secara aktif, terlibat secara emosi maupun retrospeksi dengan penggalan-penggalan kata-kata filosofis, yang entah sadar atau tidak terselip di banyak bagian dialog-dialog tokoh-tokohnya. Saya malah mempunyai pemikiran, apakah seperti demikian pemikiran-pemikiran filosofis yang ada dalam benak penulis?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Membaca-i “Manusia Fiktif” itu…</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di satu sisi saya sangat menikmati “harta karun” itu, di satu sisi lain saya harus terheran-heran dengan kekurangdetailan penulis dalam menangkap gejala-gejala lumrah “manusia”. Satu kejanggalan yang saya tangkap diantaranya adalah ketika penulis menuturkan persahabatan tiga orang pemuda Fionn, Urias dan Cymrodor dengan kaku. Tak ada sekelumit pun percakapan me“manusia” yang nampak, tak ada hal-hal konyol yang tesembul, tak ada keakraban atau kelucuan-kelucuan akrab khas gambaran sebuah persahabatan yang terjalin sangat lama, bahkan semenjak lahir. Tak ada kutipan-kutipan khas “boys talk” yang bisa saya temui.</p>
<p style="text-align: justify;">Keganjilan lain adalah, usia penokohan itu sangat beragam, mulai dari yang masih paruh baya, hingga yang sudah setengah abad, namun sangat aneh apabila gaya bicara mereka juga harus meniru satu sudut pandang saja. Sangat kaku dan tidak menunjukkan pembeda sesuai dengan usia yang dituturkan oleh penulis. Begitu juga latar belakang kesukuan tokohnya, penulis masih belum memikirkan bagaimana meng”karakter”kan tokohnya, padahal ke-12 Ksatria Talismandala merupakan ksatria terpilih dari berbagai suku.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Bungkus” Dongeng itu…</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya masih ingat ketika mendapat cetakan pertama novel ini, mata saya langsung tertuju pada sebuah label merah yang tertera di bagian sampul depan cover ini. “Novel yang akam membuatmu GEMETAR”, begitulah yang ter-emboss di cover depan Valharald. Saya rasa emboss ini malah mengebiri konten dari novel ini. Tak ada satu isi pun yang membuat pembaca GEMETAR. Tentu lain soal apabila novel ini merupakan novel horror, saya rasa emboss GEMETAR masih cukup layak. Alih-alih kata GEMETAR, saya lebih menyarankan editor untuk mengalami edisi pembacaan saya dan mengganti kata GEMETAR dengan kata-kata lain. Tergetar, misalnya. Kata “tergetar” menurut saya lebih mewakili karena bisa menggambarkan pembaca yang akan dibuat tergetar secara pikir, emosi dan perbuatan dalam melakukan perlawanan atas ujian atau perbaikan-perbaikan perilaku seperti yang dituturkan sang penulis. Kalau memungkinkan lebih baik kalau emboss itu tak usah ada sama sekali saja, atau dalam bahasa sederhananya ditiadakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga kecewa ketika cover tersebut tidak memiliki orisinalitas dari segi desain cover. Setiap mata pasti langsung mengingat bahwa desain cover Valharald secara jelas mengambil dari gambar film epik-fantasi luar negeri yang telah terlebih dahulu tayang beberapa tahun lalu. Menggabung-gabungkan beberapa film secara “montage”, kemudian diedit sedemikian rupa, dan diberi judul “Valharald”.</p>
<p style="text-align: justify;">Sinopsis di bagian belakang juga saya anggap kurang menarik perhatian saya, terlalu dilebih-lebihkan dan menurut saya hanya sekedar “lips marketing” yang kurang cerdas membaca konten Valharald sesungguhnya. Suatu saat saya coba mengintip deskripsi yang dibuat sendiri oleh penulisnya dalam sebuah grup jejaring pertemanan, dan saya akui deskripsi sinopsis yang diberikan jauh lebih membuat saya tertarik, dibanding yang diberikan di novelnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekecewaan saya pada kemasan Valharald rupanya bisa menjadi catatan tersendiri bagi editor, disamping beberapa kesalahan-kesalahan penulisan kata yang kerap kali saya temukan di sana-sini. Apakah Valharald terburu-buru dalam proses penyuntingan? Bagi saya, hal itu sangat disayangkan bagi bayi novel cerdas dan boleh dikatakan inspiratif namun terlahir secara prematur oleh penerbitnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Valharald bagi saya…</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Novel ini sedikit banyak memiliki ikatan emosional dengan saya di sana-sini. Di satu saat saya bahkan mengakui merasa dekat dengan Gwyneira yang menyukai kupu-kupu, dan menyelami dialog-dialog filosofis nya dengan Fionn. Di saat yang lain, saya harus dibuat terharu dengan Eira yang dalam beberapa hal mempunyai pengalaman yang bagi saya mendekati pengalaman hidup saya. Satu kata, menyentuh, namun bukan sebagai sebuah tulisan yang berisi tentang kecengengan yang mengharu-biru. Valharald bercerita tentang ketegaran dan perlawanan atas ujian hidup. Seperti yang termaktub dalam salah satu kutipannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Harga dari sebuah perjuangan adalah ujian. Yang tak sanggup bertahan dan kalah akan tersingkir. Yang sanggup bertahan dan memenangkan perjuangan akan tetap hidup. Bukankah kehidupan adalah serangkaian pertarungan? </em>(6)</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah Valharald yang ditutup dengan sebuah bab pertempuran dengan ending yang menggantung dan menjanjikan kelanjutan pengisahan perlawanan berikutnya. Apakah Valharald menjadi korban kutipannya sendiri? Menjadi kisah yang akan dengan mudah “dilenyapkan oleh waktu” atau tidak, yang pasti saya tidak sabar menanti kelanjutan dari novel ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Referensi :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Sinopsis sebagian diambil dari info grup Facebook Valharald, http://www.facebook.com/?sk=messages&amp;tid=413848564461#!/group.php?gid=120690074616363&amp;ref=ts</p>
<p style="text-align: justify;">2. Valharald, hal. 135</p>
<p style="text-align: justify;">3. Valharald, hal. 214</p>
<p style="text-align: justify;">4. Valharald, hal. 52</p>
<p style="text-align: justify;">5. Valharald, hal.10</p>
<p style="text-align: justify;">6. Valharald, hal.129</p>
<p style="text-align: justify;">(Resensi oleh : <strong>Nisa Elvadiani</strong>, sumber: <a href="http://www.facebook.com/#!/notes.php?id=1255461224" target="_blank">http://www.facebook.com/#!/notes.php?id=1255461224</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://resensiana.com/valharald-adi-toha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Buku Baru] Valharald &#8211; Adi Toha</title>
		<link>http://resensiana.com/buku-baru-valharald-adi-toha/</link>
		<comments>http://resensiana.com/buku-baru-valharald-adi-toha/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 05:37:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[adi toha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://resensiana.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh, inilah sebuah dongeng cerdas yang penuh dengan hentakan!
Pada sebuah negeri (VarchLand) yang telah mengalami masa-masa damai selama beratus-ratus tahun, tiba-tiba terancam mengalami kehancuran oleh sebuah kekuatan kegelapan yang datang dari bangsa Vomorian.Padahal, di masa-masa damai tersebut para kesatria VarchLand menyimpan seluruh peralatan perang dan senjata-senjata rahasianya di sebuah ruang rahasia dan menyegelnya dengan sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/05/Valharald-Cover.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-88" title="Valharald Cover" src="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/05/Valharald-Cover-214x300.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Sungguh, inilah sebuah dongeng cerdas yang penuh dengan hentakan!</p>
<p style="text-align: justify;">Pada sebuah negeri (VarchLand) yang telah mengalami masa-masa damai selama beratus-ratus tahun, tiba-tiba terancam mengalami kehancuran oleh sebuah kekuatan kegelapan yang datang dari bangsa Vomorian.Padahal, di masa-masa damai tersebut para kesatria VarchLand menyimpan seluruh peralatan perang dan senjata-senjata rahasianya di sebuah ruang rahasia dan menyegelnya dengan sebuah kunci yang juga sangat rahasia.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, di ruang rahasia tersebut juga tersimpan Mahkota Liafala yang merupakan mahkota tertinggi negeri VarchLand. Siapa pun yang bisa memakainya, maka dialah yang pantas menjadi raja. Masing-masing kesatria memegang satu buah kunci yang sama berbentuk segitiga yang merupakan bagian dari kunci lainnya. Kunci-kunci tersebut diwariskan turun-temurun kepada orang-orang yang tepat untuk memilikinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum semua kunci berhasil disatukan, pasukan kegelapan bangsa Vomorian telah lebih dulu mendarat di Pantai Vincha dengan armada perangnya yang berjumlah sangat besar. Mereka mulai menebarkan teror dan kerusakan.Nah, dari sinilah sebuah legenda tentang dua belas kesatria gagah berani dari negeri VarchLand yang disebut Kesatria Talismandala kembali menjadi harapan. Mampukah mereka menghadapi kekuatan kegelapan tersebut? Berhasilkah kekuatan Kesatria Talismandala menyelamatkan negeri Vincha dari kehancuran?</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat membaca novel Valharald yang sangat seru dan menarik ini!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://resensiana.com/buku-baru-valharald-adi-toha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Hunger Games &#8211; Suzanne Collins</title>
		<link>http://resensiana.com/the-hunger-games-suzanne-collins/</link>
		<comments>http://resensiana.com/the-hunger-games-suzanne-collins/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 08:45:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Terjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[Suzanne Collins]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://resensiana.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Survival Games, Dystopian Society, Love Story and Reality Show
Saya heran, kenapa buku ini di negera asalnya dikategorikan ke dalam buku anak-anak dan remaja. Padahal, membaca konsep dan muatan di dalamnya, buku ini layak untuk dikategorikan ke dalam buku dewasa. Sementara anak-anak dan remaja di negara kita disuguhi bacaan-bacaan klise percintaan ala teenlit, di negara lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Survival Games, Dystopian Society, Love Story and Reality Show</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" title="cover" src="http://gramedia.com/buku_images/JJZM3504big.jpg" alt="" width="150" height="210" />Saya heran, kenapa buku ini di negera asalnya dikategorikan ke dalam buku anak-anak dan remaja. Padahal, membaca konsep dan muatan di dalamnya, buku ini layak untuk dikategorikan ke dalam buku dewasa. Sementara anak-anak dan remaja di negara kita disuguhi bacaan-bacaan klise percintaan ala teenlit, di negara lain telah disuguhi The Hunger Games yang penuh dengan alegori kekinian, pertarungan hidup dan mati dan gambaran peradaban yang “sakit”.</p>
<p style="text-align: justify;">The Hunger Games berlatar di sebuah negara distopis yang berdiri di atas reruntuhan Amerika Utara setelah serangkaian malapetaka, bencana peradaban, badai, kekeringan, kelaparan dan perang. Negara itu bernama Panem yang berpusat dan dikendalikan oleh Capitol. Di luar Capitol adalah 13 distrik yang secara kualitas peradaban jauh berbeda dengan Capitol. Sebagai hukuman atas pemberontak distrik pada masa lalu, distrik ke 13 dibumihanguskan dan 12 distrik lainnya terikat pada sebuah perjanjian perdamaian yang bernama Hunger Games, di mana setiap tahunnya, masing-masing distrik harus mengirimkan seorang anak perempuan dan lelaki untuk perlombaan bertahan hidup dan bertarung sampai mati di sebuah arena maha luas dalam sebuah acara reality show yang ditayangkan secara langsung di televisi. Dengan Hunger Games, Capitol seolah-olah hendak menyampaikan pesan <em>“Lihat bagaimana kami mengambil anak-anakmu dan mengorbankan mereka, dan tak ada yang bisa kaulakukan untuk menghalanginya.”</em>(hal. 26)<br />
<span id="more-80"></span><br />
Katniss Everdeen, gadis 16 tahun dari distrik 12 yang memiliki keahlian berburu dan memanah, mengajukan diri menggantikan adik perempuannya yang terpilih menjadi peserta Hunger Games. Bersama Peeta Mallark, anak seorang tukang roti, keduanya menjadi perwakilan dari distrik 12 untuk bertarung dengan 22 peserta dari distrik lain. Distrik yang memenangkan Hunger Games akan mendapatkan hadiah-hadian dan kemewahan yang berlebih dari Capitol. Namun hanya akan ada satu pemenang dalam Hunger Games, hal ini berarti mau tidak mau, jika ia ingin bertahan hidup dan memenangkan pertarungan, demi keluarganya dan distriknya, ia harus membunuh Peeta yang sekali waktu pernah menolongnya saat ia dilanda kelaparan.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku ini dituturkan lewat pandangan Katniss, pembaca diajak mengikuti tahap demi tahap Hunger Games, sebuah acara pembantaian yang telah menjelma menjadi sebuah perayaan dan budaya pop yang disebarkan lewat media televisi. Sebelum pertarungan dimulai, para peserta dirias dan didandani seolah hendak menghadiri perhelatan akbar sebuah peragaan busana. Wawancara terhadap para peserta pun dilakukan ala talk show selebritas, dengan puluhan kamera yang siap menyiarkannya secara langsung ke seluruh penjuru Panem. Semuanya dilakukan demi kemewahan acara televisi dan kepuasan penonton. Sementara dalam pertarungan nantinya, para peserta akan saling bantai demi bertahan hidup dan menang. Sebuah perayaan yang absurd dalam menjemput kematian.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam arena Hunger Games, apa yang tampak nyata bisa jadi hanyalah artificial dan apa yang tampaknya artificial justru bisa jadi adalah yang benar-benar nyata.  Para juri bisa melakukan apapun terhadap arena demi membuat pertarungan lebih seru dan menegangkan. Kamera-kamera tersembunyi telah ditempatkan di mana-mana, siap untuk merekam dan menyiarkan setiap perilaku dan perkataan para peserta kepada para penonton. Hal-hal kecil yang dilakukan dan dikatakan oleh para peserta juga menentukan ada tidaknya sponsor yang akan mengirimi mereka hadiah-hadiah. Hadiah-hadiah dari sponsor sampai kepada para peserta lewat sebuah parasut kecil yang mendarat tepat di dekat peserta di manapun peserta berada dalam arena Hunger Games. Oleh karena itu, Katniss harus memperhitungkan setiap gerak-gerik dan perkataannya apakah bisa mengundang simpati dan emosi para penonton dan sponsor, termasuk benih-benih cintanya terhadap Peeta yang sedikit demi sedikit timbul selama berlangsungnya pertarungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Katniss memiliki semua bakat untuk menjadi pemenang. Selain ia telah terbiasa hidup di hutan, berburu binatang buruan dengan panahnya, dan mengenali tumbuh-tumbuhan yang bisa digunakan untuk obat dan bahan makanan. Sudah bisa dipastikan bahwa Katniss lah yang akan memenangkan Hunger Games. Tentunya, orang tidak akan rela bersusah payah membaca kisah pertualangan dan pertempuran seorang gadis semenarik dan dengan karakter yang kuat, hanya untuk mendapati gadis tersebut mati pada akhirnya. Bagaimana Katniss menjalani proses menuju pemenangan itulah buku ini diceritakan, tentunya dengan beberapa kejutan dan perkembangan karakter Katniss seiring bergulirnya Hunger Games.</p>
<p style="text-align: justify;">Lewat The Hunger Games, Suzanne Collins seolah ingin menunjukkan kegamangan identitas manusia di bawah tekanan budaya televisi. Acara-acara reality show yang seringnya mengklaim bahwa apa yang ditayangkan adalah benar-benar realitas, tidak jarang penuh dengan manipulasi demi memanjakan penonton. Bahkan, lebih dari sekedar alat hiburan, televisi pun menjadi alat bagi penguasa sebagai media propaganda untuk menegaskan kekuasaannya. Realitas yang tampak dan ditampakkan dalam televisi menjadi ambigu dan artificial. Realitas dalam pentas. Realitas manipulatif.</p>
<p style="text-align: justify;">The Hunger Games adalah buku pertama dari trilogi yang telah direncanakan. Buku kedua berjudul Catching Fire dan buku ketiga Mockingjay. Dalam waktu dekat novel ini akan diadaptasi ke dalam bentuk film. <strong>(Adi Toha)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Judul buku    : The Hunger Games<br />
Pengarang    : Suzanne Collins<br />
Penerjemah    : Hetih Rusli<br />
Penerbit    : Gramedia<br />
Cetakan        : Oktober 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://resensiana.com/the-hunger-games-suzanne-collins/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Daughter of Fortune &#8211; Isabel Allende</title>
		<link>http://resensiana.com/daughter-of-fortune-isabel-allende/</link>
		<comments>http://resensiana.com/daughter-of-fortune-isabel-allende/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 02:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Terjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[Isabel Allende]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://resensiana.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Setahu saya, ini adalah novel pertama Isabel Allende, penulis Chili, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Novel ini berkisah tentang Eliza Sommers, seorang anak yatim yang dibesarkan dalam keluarga Sommers yang terdiri dari Rose Sommers, Jeremy Sommers dan John Sommers. Ketiganya adalah bagian dari koloni Inggris yang tinggal di kota pelabuhan Valparaiso, Chili. Dari seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" title="eliza" src="http://gramedia.com/buku_images/JLPP4557big.jpg" alt="" width="150" height="210" />Setahu saya, ini adalah novel pertama Isabel Allende, penulis Chili, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Novel ini berkisah tentang Eliza Sommers, seorang anak yatim yang dibesarkan dalam keluarga Sommers yang terdiri dari Rose Sommers, Jeremy Sommers dan John Sommers. Ketiganya adalah bagian dari koloni Inggris yang tinggal di kota pelabuhan Valparaiso, Chili. Dari seorang gadis cantik yang hidup dalam pengajaran etika dan tata krama kebangsawanan yang ketat, Eliza berubah menjadi seorang wanita dewasa yang bebas dan melakukan perjalanan dan petualangan yang berbahaya ketika Joaquin Andieta, cinta pertamanya pergi ke California, memburu emas. California tengah mengalami demam emas dan ribuan pendatang dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong menuju California untuk menambang emas yang konon kabarnya sangat mudah untuk ditemukan di kota itu. Dengan hanya berbekal keberanian dan cinta yang besar, Eliza berniat menyusul dan mencari Andieta.</p>
<p style="text-align: justify;">(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://resensiana.com/daughter-of-fortune-isabel-allende/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Heaven&#8217;s Net Is Wide &#8211; Lian Hearn</title>
		<link>http://resensiana.com/heavens-net-is-wide-lian-hearn/</link>
		<comments>http://resensiana.com/heavens-net-is-wide-lian-hearn/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 06:45:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Terjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lian Hearn]]></category>
		<category><![CDATA[Matahati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://resensiana.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Across The Nightingale Floor, yang merupakan buku pertama dari Trilogi Klan Otori, diceritakan bahwa Otori Shigeru, pewaris Klan Otori, menemukan dan menyelamatkan seorang pemuda bernama Tomasu di desa terpencil bernama Mino. Tomasu kelak menjadi anak angkatnya, berganti nama menjadi Otori Takeo dan memegang peranan penting dalam pembalasan dendamnya terhadap musuh bebuyutan Shigeru, Iida Sadamu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/03/heaven.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-58" title="heaven" src="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/03/heaven.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Dalam Across The Nightingale Floor, yang merupakan buku pertama dari Trilogi Klan Otori, diceritakan bahwa Otori Shigeru, pewaris Klan Otori, menemukan dan menyelamatkan seorang pemuda bernama Tomasu di desa terpencil bernama Mino. Tomasu kelak menjadi anak angkatnya, berganti nama menjadi Otori Takeo dan memegang peranan penting dalam pembalasan dendamnya terhadap musuh bebuyutan Shigeru, Iida Sadamu, pimpinan Klan Tohan.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyelamatan Takeo seolah-olah sebuah kebetulan dan keberuntungan dari surga bagi Shigeru. Takeo adalah sosok yang unik. Dalam diri Takeo mengalir darah Tribe, sebuah suku rahasia yang memikili bermacam keahlian tempur melebihi manusia biasa yang menjadikan mereka memiliki peranan tersembunyi dalam peta kekuasaan di Tiga Negara. Namun Takeo dibesarkan dalam ajaran Hidden, sebuah ajaran rahasia mirip dengan ajaran Kristen. Mereka menganut tuhan yang satu yang disebut sebagai Sang Rahasia, memiliki paham kesetaraan manusia dan melarang pembunuhan serta bunuh diri,. Karena memiliki banyak pertentangan dengan ajaran yang dianut oleh golongan ksatria dan penguasa feodal, maka penganut Hidden diburu dan dibantai oleh Klan Tohan dan pengikut-pengikutnya. Dan penyelamatannya oleh Shigeru, menjadikan Takeo seorang Otori. Tiga kekuatan penting dalam Tiga Negara bersatu dalam sosok Takeo.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga Negara adalah wilayah yang masing-masing dikuasai oleh klan-klan. Negeri Barat dikuasai oleh klan Seishuu yang terdiri dari klan-klan kecil: klan Maruyama, klan Arai, dan klan Shirakawa. Negeri Tengah diadalah wilayah klan Otori. Sedangkan Negeri Timur dikuasai oleh Klan Tohan. Tribe berada di tengah-tengah peta kekuasaan itu mengambil keuntungan dengan bekerja sebagai mata-mata kepada pihak yang mampu membayar paling tinggi. Sementara itu, secara damai dan tersembunyi, penganut Hidden menjalankan ajarannya.<br />
<span id="more-57"></span><br />
Heaven’s Net is Wide adalah prequel dari trilogi dan satu sekuel kisah klan otori: Across The Nightingale Floor, Grass for His Pillow dan Brilliance of The Moon serta the Harsh Cry of the Heron. Jika pada trilogi dan sekuelnya, kisah berpusat pada Otori Takeo, maka pada prequel ini kisah berpusat pada Otori Shigeru, semenjak ia berusia dua belas tahun dan berakhir tepat ketika ia menemukan Takeo. Konon kabarnya, prequel ini ditulis untuk memuaskan rasa penasaran pembaca terhadap sosok Otori Shigeru, sosok ksatria bijak, welas asih dan kharismatik yang menjadi ayah angkat sekaligus guru kehidupan bagi Otori Takeo. Sebagai prequel, buku ini memberikan latar belakang kisah yang kompleks, berjalin berkelindan, dengan bermacam tokoh dan peristiwa penting yang tidak diceritakan secara mendetail dalam keempat buku yang terbit sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Novel ini dibuka dengan pertarungan tidak seimbang antara dua lelaki yang bernama Kotaro dan Isamu. Bagi mereka yang telah menamatkan Kisah Klan Otori pasti mengenal dua nama ini. Ya, Kotaro kelak akan menjadi kepala keluarga Kikuta, keluarga utama di kalangan Tribe di mana Takeo adalah salah satu garis keturunannya. Sedangkan Isamu adalah ayah kandung Takeo. Isamu membelot dari Tribe dan memilih untuk menyepi di desa terpencil sambil menganut ajaran Hidden. Hukuman bagi mereka yang membelot dari Tribe adalah mati. Kotaro diutus untuk menghukum Isamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tribe dipekerjakan oleh penguasa klan sebagai mata-mata dan pembunuh bayaran. Penguasa klan yang banyak mempekerjakan Tribe adalah klan Tohan di wilayah timur, yang tengah bergiat menundukkan klan-klan kecil untuk bergabung di bawah kekuasaan klan Tohan. Sementara di negeri tengah yang dikuasai oleh klan Otori, situasinya relatif damai.</p>
<p style="text-align: justify;">otorysymbolKlan Otori dipimpin oleh Otori Shigemori. Otori Shigeru adalah putra pertamanya. Ia dibesarkan dalam pengajaran yang ketat tentang keberanian, kesetiaan dan kehormatan sebagai seorang ksatria sekaligus calon pewaris klan. Pada umur lima belas tahun, ia dikirim ke biara Terayama untuk berguru kepada Matsuda Shingen, pendekar ternama di Tiga Negara yang telah pensiun dan mengabdikan diri menjadi biksu. Di bawah pengajaran Matsuda, ia ditempa secara fisik dan mental lewat latihan pedang, tongkat dan meditasi. Shigeru sekaligus belajar tentang kesabaran, kearifan, kebijaksanaan dan menahan hawa nafsu serta ajaran lain yang berguna sebagai bekalnya dalam mempersiapkan diri menjadi ksatria pewaris klan Otori.</p>
<p style="text-align: justify;">Intrik kekuasaan dan adanya ancaman dari klan Tohan di wilayah perbatasan membuat Shigeru selalu waspada dan curiga kepada siapapun yang berpotensi melemahkan dan menghancurkan dirinya. Matsuda tidak luput dari sasaran kecurigaannya. Dalam sebuah latihan pertarungan, dengan kecurigaan dan emosi yang memuncak, Shigeru mengalahkan gurunya itu, bahkan hampir membunuhnya. Dilanda kepanikan yang sangat, ia berusaha mencari bantuan. Peristiwa ini mempertemukannya dengan seorang laki-laki dari Tribe yang belakangan diketahui bernama Muto Kenji yang akan menjadi sahabatnya. Persahabatan dengan Muto Kenji inilah yang memberikan Shigeru akses untuk mengetahui lebih jauh tentang Tribe.</p>
<p style="text-align: justify;">Heaven’s Net is Wide tidak melulu menceritakan dunia lelaki dan ksatria dengan segala pertarungannya. Sebagai sosok lelaki, Shigeru tak lepas dari hasrat badaniah terhadap perempuan. Hal inilah yang mempertemukannya dengan Akane, pelacur terkenal dari Rumah Kamelia yang akhirnya dijadikan selir. Berlanjut kepada pernikahan Shigeru dengan Yanagi Moe. Dan terakhir adalah pertemuannya dengan Maruyama Naomi, pemimpin Klan Maruyama, satu-satunya klan yang menganut garis keturunan perempuan sebagai pemimpin tertinggi. Juga, interaksi Shigeru dengan Tribe mempertemukannya dengan Muto Shizuka, perempuan Tribe yang menjadi mata-mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat tokoh perempuan tersebut dengan segala peran dan kelebihannya seolah menjadi representasi perempuan dalam dunia feodal yang dikuasai laki-laki. Akane dengan kelebihan seksualnya, Yanagi Moe dengan kelebihan kebangsawanannya, Maruyama Naomi dengan kelebihan kepemimpinannya, dan Shizuka dengan kelebihan kemampuan Tribe-nya. Kelebihan-kelebihan itulah yang menempatkan mereka dalam perannya masing-masing di tengah peta kekuasaan dan kekuatan laki-laki. Akane menjadi sekedar pemuas nafsu. Yanagi Moe dengan hanya bermodal kedudukannya sebagai bangsawan tanpa disertai dengan kecerdasan sebagai seorang wanita dan istri, hanya menjadi sebatas istri pajangan. Maruyama Naomi dengan segala kelebihan yang dimiliki seorang perempuan pada masa itu, menjadi sekutu sekaligus cinta sejati Shigeru. Shizuka menjadi mata-mata sekaligus pembawa pesan rahasia yang memiliki peranan penting dalam peta kekuasaan antar klan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan segala kekuatan dan kelemahan Shigeru dalam menghadapi ketakutan, kecurigaan dan nafsunya, menjadikan ketokohan Shigeru pada keseluruhan seri Klan Otori yang telah terbit sebelumnya, seolah lenyap. Secara keseluruhan, Shigeru digambarkan sebagai ksatria biasa yang sangat manusiawi. Barangkali, ketokohan Shigeru mulai nampak setelah kekalahannya di perang Yaegahara, perang besar antara klan Otori dan klan Tohan. Karena pengkhianatan, Otori kehilangan ribuan ksatrianya dan Shigeru harus menerima kenyataan pahit kehilangan ksatria-ksatria tangguh sekaligus kawan-kawan dekatnya. Hanya bunuh diri dengan cara ksatria (Seppuku) yang akan menjadi penyelesaian terhormat. Namun wasiat sang ayah lah menjadikannya tetap bertahan hidup meski dengan segala celaan dan hinaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Shigeru kehilangan haknya sebagai pewaris klan Otori dan dia terpaksa menjalani har-harinya dengan berpura-pura acuh tak acuh terhadap persoalan klan. Ia lebih memilih menyibukkan diri mengembara dan mempelajari tentang pertanian, sampai-sampai di seluruh Tiga Negara, ia lebih terkenal sebagai ‘Petani’ daripada sebagai ksatria Otori. Ia menjalankan ajaran kebajikan dan kesabaran sebagai mana yang telah diajarkan oleh Matsuda. Orang-orang tidak mengetahui jika dalam hatinya Shigeru selalu menyimpan bara dendam dan harapan. Ia hanya tengah bersabar sembari mencari jalan untuk menuntaskan rencananya serta menyelidiki siapa yang benar-benar sekutu dan siapa yang benar-benar musuh. Dengan penyamaran ini pula, ia lebih leluasa untuk mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia dengan kekasihnya, Lady Maruyama.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kedalaman novel ini adalah kekuatan kesabaran, keyakinan, harapan dan cinta di tengah kenyataan dunia yang tidak bersahabat yang penuh dengan kepentingan politik kekuasaan, pengkhianatan dan ketidakadilan. Sebagai laki-laki dan perempuan, Lord Otori dan Lady Maruyama saling jatuh cinta. Namun, posisi mereka sebagai pewaris klan di tengah peta politik yang tidak mendukung keduanya untuk bersatu, menjadikan keduanya harus menjalani percintaan dengan sembunyi-sembunyi. Namun, selama cinta dan keyakinan masih menyala, akan selalu ada harapan dan jalan untuk mewujudkan impian. Impian keduanya adalah hidup bersama di dunia yang damai. Dan kedamaian di Tiga Negara takkan pernah terjadi selama pemimpin klan Tohan, Iida Sadamu masih hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai prequel, Lian Hearn menulis Heaven’s Net is Wide dengan sangat cerdas dan menghanyutkan. Ia tidak terburu-buru untuk mengalirkan kisah pada penyelesaian akhir yang sama-sama telah diketahui pada buku yang terlebih dahulu diterbitkan. Setiap elemen peristiwa dan tokoh penting tergarap dengan baik. Barangkali Lian Hearn memiliki kesabaran yang sama dengan kesabaran Shigeru. Kesabaran bangau yang diam tak bergerak, menunggu mangsa mendekatinya. Lian Hearn adalah nama samaran dari Gillian Rubinstein, penulis kelahiran Inggris yang bermukim di Australia. Nama Hearn barangkali dipinjam dari Lafcadio Hearn, salah satu penulis Barat pertama yang menulis tentang mitologi Jepang. Hearn juga dekat dengan Heron –bangau- yang menjadi simbol klan Otori.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun secara fisik buku ini lebih tebal dari keempat buku lainnya, namun membaca halaman demi halamannya, kita akan hanyut ke dalam dunia Tiga Negara yang dalam banyak sisi adalah fiksionalisasi dari abad pertengahan Jepang. Buku ini sangat layak dibaca baik oleh pembaca yang telah menamatkan keempat buku lain yang terlebih dahulu diterbitkan, maupun oleh pembaca yang hendak memulai mengenal kisah Klan Otori. Pun, sebagai satu buku yang berdiri sendiri, buku ini tidak akan kehilangan kompleksitas dan keutuhannya. Selamat datang di dunia Otori. (Adi Toha)</p>
<p style="text-align: justify;">Judul : Heaven’s Net is Wide<br />
Penulis : Lian Hearn<br />
Penerjemah : Meithya Rose Prasetya<br />
Penerbit : Matahati<br />
Tahun : Cetakan I, November 2009<br />
Tebal : 784 Halaman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://resensiana.com/heavens-net-is-wide-lian-hearn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pompeii &#8211; Robert Harris</title>
		<link>http://resensiana.com/pompeii-robert-harris/</link>
		<comments>http://resensiana.com/pompeii-robert-harris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 06:33:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Terjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[Robert Harris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://resensiana.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah telah mencatat bahwa pada tanggal 24 Agustus 79 M, pada hari Jupiter, satu hari setelah festival Dewa Api Vulcanalia, gunung Vesuvius yang berdiri kokoh bak singgasana dewa-dewa di teluk Neapolis (Napoli), meletus. Kedahsyatan letusannya mengubur kota-kota terdekat terutama Pompeii dan Herculaneum ke dalam lapisan batu dan abu hingga kedua kota tersebut hilang selama kurang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/03/pompeii.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-51" title="pompeii" src="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/03/pompeii.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Sejarah telah mencatat bahwa pada tanggal 24 Agustus 79 M, pada hari Jupiter, satu hari setelah festival Dewa Api Vulcanalia, gunung Vesuvius yang berdiri kokoh bak singgasana dewa-dewa di teluk Neapolis (Napoli), meletus. Kedahsyatan letusannya mengubur kota-kota terdekat terutama Pompeii dan Herculaneum ke dalam lapisan batu dan abu hingga kedua kota tersebut hilang selama kurang lebih 16 abad. Sejarah juga mencatat, Laksamana Gaius Plinius yang kelak lebih dikenal sebagai Plinius Tua, menjadi salah satu korbannya. Sosok ilmuwan, filsuf, sejarawan, naturalis dan sekaligus panglima angkatan laut Romawi itu meninggal dalam sebuah upaya penyelamatan yang heroik terhadap korban letusan Vesuvius. Sementara dari Misenum, Gaius Plinius Caecilius Secundus, keponakan Plinius Tua, yang kelak lebih dikenal dengan nama Plinius Muda, mengamati dan mencatat detail letusan dan melaporkannya dalam sebuah surat kepada Tacitus, sejarawan Romawi. Surat Plinius Muda tersebut menjadi sumber utama untuk mempelajari salah satu letusan gunung api terdahsyat yang pernah terjadi 19 abad yang lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Robert Harris mengisahkan detik-detik sebelum, saat dan sesudah terjadinya letusan tersebut dalam novelnya yang berjudul Pompeii. Pompeii mengambil latar waktu dua hari sebelum letusan, dan dua hari pada saat letusan. Meski dokumentasi tentang letusan Vesuvius telah beberapa kali dibuat, salah satunya adalah film dokumenter  oleh BBC dengan judul Pompeii: The Last Day, namun novel ini menjadi menarik, selain karena didasarkan pada riset mendalam dalam penggambaran kondisi sosial masyarakat Pompeii pada masa itu, juga karena novel ini mengambil sudut pandang sang Aquarius, seorang penanggung jawab masalah pengairan dalam kekaisaran Romawi. Api dan Air, dua unsur utama alam tersebut menjadi unsur utama dalam novel ini.<br />
<span id="more-50"></span><br />
Marcus Attilius Primus adalah seorang Aquarius baru yang ditugaskan untuk mengawasi Aqua Augusta, sebuah saluran air sepanjang 96 km yang berawal di mata air Serinus di pegunungan Appenninus dan berakhir di Piscina Mirabilis, sebuah reservoir besar di kota pelabuhan Misenum. Saluran air terpanjang di dunia ini bertanggung jawab memenuhi kebutuhan air kota-kota di sekeliling teluk Neapolis: Pompeii, Nola, Acerrae, Atella, Neapolis, Puteoli, Cumae, Baiae, dan Misenum. Attilius ditugaskan untuk menggantikan Exomnius, Aquarius sebelumnya yang menghilang secara misterius.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang Aquarius baru yang berusia muda, selain dihadapkan pada persoalan kepercayaan oleh anak buahnya, ia juga langsung dihadapkan pada permasalahan Augusta. Mulanya adalah keberadaan belerang yang mencemari air di kolam ikan Vila Hortensia dan membunuh ikan-ikan Mullet yang mahal, peliharaan sang jutawan, Numerius Popidius Ampliatus. Masalah berlanjut pada satu masalah besar yang harus segera ditangani: Aqua Augusta tiba-tiba berhenti mengalir di kota-kota yang dilewatinya kecuali Pompeii. Mengetahui bahwa hanya di Pompeii air masih mengalir dan bahkan berlimpah, Attilius memperkirakan bahwa sumber utamanya adalah Augusta mengalami kerusakan di suatu tempat di punggung Vesuvius. Maka dengan ijin dan surat penugasan dari Laksamana Gaius Plinius, ia bersama beberapa anak buahnya berlayar ke Pompeii untuk memperbaiki kerusakan Augusta, berpacu dengan waktu sebelum pasokan air benar-benar habis dan kekacauan pun terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak mudah bagi Aquarius untuk menjalankan tugasnya. Selain ia harus dengan cepat menemukan sumber kerusakan Augusta, ia tergoda untuk mencari tahu sebab musabab menghilangnya Exomnius. Penyelidikan ala detektif pun dilakukannya sambil menjalankan tugasnya. Kecurigaan Aquarius mengarah kepada Ampliatus, jutawan mantan budak yang berhasil memanfaatkan kekacauan Pompeii akibat gempa besar yang pernah terjadi sebelumnya. Dengan bantuan Corelia Ampliata, putri sang jutawan yang baik hati dan menarik perhatian Attilius, Aquarius muda itu mengumpulkan bukti-bukti pelanggaran terhadap penyediaan pasokan air untuk vila-vila mewah dan kolam-kolam pemandian di Pompeii.</p>
<p style="text-align: justify;">Pompeii, sebelum diluluhlantakkan oleh Vesuvius, serupa kota metropolitan pada jamannya. Pompeii menjadi lambang kemakmuran dan kemewahan sebuah peradaban. Arena gladiator, kolam-kolam pemandian dan tempat pelacuran dibangun di Pompeii untuk memanjakan dan memenuhi kebutuhan rekreasi dan hiburan warga Pompeii dan kekaisaran romawi pada umumnya. Aktifitas seksual menjadi sesuatu yang tidak tabu untuk dipertontonkan dan diperbincangkan, terlihat dari banyaknya lukisan dinding (fresco) erotis yang berhasil diketemukan setelah penggalian selama ratusan tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Reruntuhan Pompeii pertama kali ditemukan oleh Domenico Fontana, seorang arsitek dalam penggaliannya menyusur sungai Sarnus pada tahun 1599. Namun, baru pada tahun 1748, dilakukan upaya serius untuk menggali reruntuhan kota kuno Romawi tersebut. Pada tahun 1860, Giuseppe Fiorelli memimpin penggalian dan ia menemukan ruang-ruang kosong dalam lapisan-lapisan abu vulkanik. Dengan teknik injeksi plester, tampaklah bahwa ruang-ruang kosong itu tercipta karena membusuknya tubuh manusia yang pernah menempatinya. Apa yang ditemukan selanjutnya benar-benar menggambarkan kengerian warga Pompeii menjelang detik-detik akhir kehidupan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam novel ini, Robert Harris menggambarkan fase-fase terjadinya letusan -sebagaimana yang digambarkan oleh Plinius Muda- mulai dari terciptanya tiang letusan, mengalirnya magma, hujan batu apung secara terus-menerus, terciptanya gelombang panas letusan (piroklastik) yang menjalar dengan sangat cepat dan menghanguskan apapun yang dilewatinya, dengan mendetil. Membacanya, seolah tengah berada di tengah-tengah malapetaka. Dia pun berhasil menghidupkan suasana Pompeii berabad-abad lalu di saat kota itu tengah mengalami puncak kejayaannya. Kelebihan lain adalah penggambaran Aqua Augusta yang cukup signifikan sebagai salah satu pencapaian terbesar peradaban Romawi dalam bidang pembangunan sarana publik menyangkut pengadaan air.</p>
<p style="text-align: justify;">Robert Harris telah sukses sebelumnya lewat novel-novelnya yang berlatar sejarah. Novel pertamanya adalah Fatherland (1992) yang merupakan sejarah alternatif ketika Jerman memenangkan Perang Dunia II, disusul dengan Enigma (1995) dan Archangel (1998). Pompeii diterbitkan pertama kali pada tahun 2003. Pada tahun 2006, dia menerbitkan Imperium, yang berkisah tentang kehidupan Cicero, orator ulung yang hidup pada jaman Romawi. Novel suksesnya yang lain adalah The Ghost (Penulis Bayangan).</p>
<p style="text-align: justify;">Pompeii adalah sebuah novel sekaligus dokumentasi sejarah, juga kisah tentang bencana besar dan usaha manusia untuk menyelematkan dirinya. Mengetahui bahwa dalam waktu yang telah kita ketahui bersama, Vesuvius akan meletus dan menghancurkan peradaban di sekelilingnya, maka ketika kita membaca bahwa tokoh-tokoh protagonis di dalamnya tidak menyadari itu, meskipun tanda-tanda alam telah banyak menunjukkannya, seolah kita ingin berseru kepada tokoh-tokoh tersebut: cepat lari! gunung itu akan meledak!</p>
<p style="text-align: justify;">Lewat sosok Attilius yang berpikir praktis novel ini seolah ingin mengedepankan pengamatan dan penyelidikan ilmiah daripada menyerahkan segala sesuatu kepada kepercayaan terhadap dewa atau mitos. Sosok Ampliatus adalah representasi dari jutawan korup yang berpikir bahwa dengan uang, segalanya bisa dilakukan. Robert Harris mempertemukan kedua sosok fiktif ini dengan sosok yang benar-benar ada yaitu Plinius Tua dan Plinius Muda, yang reputasinya dalam ilmu pengetahuan dan sejarah benar-benar diakui. Dengan ini seolah kedua tokoh fiktif benar-benar ada dan menjadi bagian dari sejarah Pompeii.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika suatu saat anda mendengar atau membaca legenda tentang pria dan wanita yang muncul dari dalam perut bumi setelah letusan Vesuvius berakhir, bisa jadi pria dan wanita itu adalah Marcus Attilius Primus dan Corelia Ampliata yang berusaha menyelamatkan diri dari letusan dahsyat Vesuvius. Dan inilah kisah mereka. <strong>(Adi Toha)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Judul        : Pompeii<br />
Penulis        : Robert Harris<br />
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama<br />
Tahun        : Cetakan I, September 2009<br />
Tebal        : 392 halaman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://resensiana.com/pompeii-robert-harris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Keep &#8211; Jennifer Egan</title>
		<link>http://resensiana.com/the-keep-jennifer-egan/</link>
		<comments>http://resensiana.com/the-keep-jennifer-egan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 06:28:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Terjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[Jennifer Egan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://resensiana.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Membaca blurb di sampul belakang buku ini setidaknya ada dua hal yang bisa saya perkirakan. Pertama, ada dua tokoh utama yaitu Danny dan Ray, dan novel ini adalah kisah keduanya. Meskipun masing-masing tokoh menjalani alurnya sendiri-sendiri, entah bagaimana, pada satu titik pasti akan dipertemukan. Selanjutnya, novel ini sepertinya novel misteri bahkan cenderung horor. Ada penyebutan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/03/the-keep.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-46" title="the keep" src="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/03/the-keep.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Membaca blurb di sampul belakang buku ini setidaknya ada dua hal yang bisa saya perkirakan. Pertama, ada dua tokoh utama yaitu Danny dan Ray, dan novel ini adalah kisah keduanya. Meskipun masing-masing tokoh menjalani alurnya sendiri-sendiri, entah bagaimana, pada satu titik pasti akan dipertemukan. Selanjutnya, novel ini sepertinya novel misteri bahkan cenderung horor. Ada penyebutan tentang kastil abad pertengahan, supranatural, hantu masa lalu, pintu rahasia dan kisah-kisah orang mati. Ternyata, prediksi saya tidak sepenuhnya benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibayang-bayangi oleh perlakuan buruk terhadap sepupunya Howard di masa kecil, Danny justru diundang oleh sepupunya itu ke sebuah kastil miliknya di daerah perbatasan antara Austria, Jerman dan Republik Ceko. Sekian lama tak bertemu, Howard yang telah berubah menjadi pialang saham kaya raya membeli kastil abad pertengahan dan dengan bantuan Danny, hendak merenovasinya menjadi sebuah hotel yang unik. Dari keramaian kota New York, Danny tiba-tiba harus berada dalam kesunyian kastil yang telah berdiri selama berabad-abad.</p>
<p style="text-align: justify;">Danny adalah tipikal manusia moderen yang tidak bisa lepas dari teknologi dan informasi. Kebutuhan mendasarnya adalah untuk selalu terhubung dengan dunia luar entah itu lewat telepon seluler atau internet. Hal pertama yang dilakukannya sampai di kastil sepupunya itu adalah mencari tempat di mana dia bisa meletakkan piringan satelit yang dibawanya, sehingga ia tetap bisa menggunakan telepon selulernya untuk berinteraksi dengan dunia luar dan mengakses internet.<br />
<span id="more-45"></span><br />
Bagi Danny, pikiran bahwa dia akan menghilang terasa lebih buruk daripada mati. Kalau kau mati, ya sudah. Tetapi hidup namun tidak terlihat, tidak bisa dihubungi, tidak bisa ditemukan –itu akan seperti salah satu mimpi buruk yang biasa didapatnya, ketika dia tidak bisa bergerak, ketika dia seperti mati dan semua orang menyangka dirinya mati, tetapi dia masih bisa merasakan dan mendengar semua yang terjadi. (hal. 64)</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan Howard justru ingin menjadikan kastil itu sebagai hotel yang sama sekali terbebas dari teknologi. Ia ingin pengunjung hotelnya kelak merasakan seperti tengah berada di abad pertengahan ketika kastil itu dibangun. Apa yang ada di benak sepupunya itu adalah kelak hotelnya akan menawarkan wisata imajinasi abad pertengahan dengan segala kisah dan takhayulnya, hantu-hantu dan malaikat-malaikatnya. Kesunyian dan kekunoan kastil beserta lorong-lorong bawah tanahnya akan mengembalikan sesuatu yang telah lama hilang dari kehidupan orang-orang modern: imajinasi. “Biarlah orang-orang menjadi turis dari imajinasi mereka sendiri.” Demikian misi Howard dengan hotel kastilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang sudah bosan. Sudah mati! Pergilah ke pusat perbelanjaan dan lihat wajah-wajah mereka. Aku melakukan ini bertahun-tahun –aku pergi ke mal-mal pada akhir pekan dan hanya duduk memperhatikan orang-orang, mencoba memikirkannya. Apa yang hilang? Apa yang mereka butuhkan? Apa langkah selanjutnya? Lalu aku mendapatkannya: imajinasi. Kita kehilangan kemampuan mencipta. Kita mengalihkan pekerjaan itu ke industri hiburan, dan kita duduk saja meneteskan air liur serta membiarkan mereka melakukannya untuk kita. (hal. 65)</p>
<p style="text-align: justify;">Di sebuah penjara modern, Ray, seorang narapidana kasus pembunuhan tengah mengikuti sebuah kelas menulis yang diajarkan oleh Holly, perempuan muda yang menarik perhatian Ray. Holly mengajarkannya tentang sebuah pintu. Pintu yang bisa membawa ke mana saja. Pintu di dalam kepala. Pintu imajinasi! Dan Ray telah membukanya dengan menuliskan cerita Danny.</p>
<p style="text-align: justify;">Membaca beberapa halaman awal novel ini, kita tidak akan tahu jika Egan menggunakan Ray sebagai narator. Mulanya seolah pengarang lah narator itu sendiri. Ray mulai menyusup ke dalam narasi Danny dengan memperkenalkan dirinya sendiri. “Kau? Siapa sih kau? Itulah yang pasti dikatakan seseorang saat ini. Yah, akulah pria yang sedang bicara”(hal. 28). Dari sini lah elemen metafiksi dalam bentuk cerita di dalam cerita atau cerita seorang pengarang dalam menuliskan ceritanya, mulai terbangun. Cerita mulai berpindah-pindah antara narasi Ray tentang Danny dan kastilnya, dengan sudut pandang orang ketiga dan narasi Ray tentang dirinya sendiri dan kehidupannya di penjara, dengan sudut pandang orang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Baik Danny maupun Ray adalah individu yang ingin keluar dari kenyataan hidup yang mengurungnya. Pintu yang membatasi Danny dengan dunia luar dan informasi adalah pagar kastil dan rencana Howard atasnya. Dibayangi oleh masa lalu, Danny seolah merasakan paranoia bahwa sepupunya itu hendak melakukan balas dendam atas perlakuan Danny semasa kecil. Danny pernah meninggalkannya sendirian di dalam dua selama 3 hari sampai Howard hampir mati. Sedangkan pintu yang membatasi Ray dengan dunia luar tentu saja tembok dan pagar berduri penjara. Cerita keduanya berinterferensi lewat “pintu” di kepala Ray, dengan narasi tentang Danny cenderung lebih banyak dari pada Ray. Pada bagian terakhir novel adalah narasi dengan sudut pandang Holly. Guru mengarang Ray itu menyatukan kepingan-kepingan cerita menjadi satu cerita yang utuh serta menambah porsi cerita tentang Ray.</p>
<p style="text-align: justify;">Penelusuran Danny melalui bagian-bagian kastil, melewati pintu-pintunya, mempertemukannya dengan Baroness von Ausblinker yang menghuni bagian menara benteng. Perempuan tua itu bersikeras tidak ingin meninggalkan kastil yang dianggapnya adalah peninggalan leluhurnya. Howard menghormati perempuan tua itu dan tidak ingin mengusik kediamannya. Menurutnya, keberadaan baroness justru akan semakin menambah daya tarik hotelnya.</p>
<p style="text-align: justify;">The Keep, adalah sejenis novel yang relatif tidak mudah dibaca, terutama karena kompleksitas cerita dan karakter tokoh-tokohnya. Dari segi penulisan, Egan (Ray) tidak menggunakan tanda kutip untuk menandakan dialog tokohnya. Ini cukup membingungkan mengingat narrator berubah-ubah dari satu tokoh ke tokoh yang lain dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bermacam elemen cerita hantu bernuansa gothik terdapat dalam novel ini: kastil abad pertengahan, baroness tua misterius, cerita kematian dua bocah dalam kolam, dan lorong-lorong rahasia yang tersembunyi di bawah kastil cukup menyeramkan meski tidak cukup menegangkan. Namun novel ini bukanlah semata-mata cerita hantu, melainkan cerita tentang kebimbangan kejiwaan antara yang nyata dan yang khayal. Bagaimana perubahan situasi menyebabkan perubahan reaksi masing-masing tokohnya. Bagaimana trauma masa lalu menghantui. Bagaimana sebuah “pintu” di kepala bisa membuatmu pergi ke mana saja. Sebuah metafiksi yang berani, menghibur dan merangsang imajinasi, meski cukup membuat kening berkerut saat membacanya.<strong> (Adi Toha)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Judul Buku : The Keep<br />
Penulis : Jennifer Egan<br />
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama<br />
Tahun : Cetakan I, November 2009<br />
Tebal : 319 Halaman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://resensiana.com/the-keep-jennifer-egan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Moribito, Guardian of The Spirit &#8211; Nahoko Uehashi</title>
		<link>http://resensiana.com/moribito-guardian-of-the-spirit-nahoko-uehashi/</link>
		<comments>http://resensiana.com/moribito-guardian-of-the-spirit-nahoko-uehashi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 06:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Terjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Matahati]]></category>
		<category><![CDATA[Nahoko Uehashi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://resensiana.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Balsa tidak tahu, bahwa tindakannya menyelamatkan Pangeran Kedua yang terjatuh dari atas jembatan dan terseret arus sungai ketika sapi penarik keretanya mengamuk, akan membawanya pada tugas paling berat yang pernah dijalaninya sebagai pengawal pribadi bayaran. Kejadian itulah yang membuat permaisuri kedua, ibu kandung Chagum menyewa Balsa untuk menjadi pengawal pribadi Chagum dan membawanya keluar dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/03/moribito.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-55" title="moribito" src="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/03/moribito.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Balsa tidak tahu, bahwa tindakannya menyelamatkan Pangeran Kedua yang terjatuh dari atas jembatan dan terseret arus sungai ketika sapi penarik keretanya mengamuk, akan membawanya pada tugas paling berat yang pernah dijalaninya sebagai pengawal pribadi bayaran. Kejadian itulah yang membuat permaisuri kedua, ibu kandung Chagum menyewa Balsa untuk menjadi pengawal pribadi Chagum dan membawanya keluar dari istana demi menyelamatkan anaknya itu. Permaisuri kedua menceritakan bahwa dalam tubuh Chagum bersemayam sosok makhluk mengerikan.</p>
<p>Dalam legenda resmi yang berkembang di New Yogo, dua ratus tahun tahun lalu, Torugaru, sang Putra Langit datang ke semenanjung Nayoro dan mendirikan sebuah negara baru yang diberi nama New Yogo. Bangsa Yakoo yang merupakan penduduk asli semenanjung Nayoro memilih untuk menyingkir ke daerah pegunungan. New Yogo menjadi negara yang makmur setelah Torugaru berhasil mengalahkan roh jahat yang menguasai sungai. Roh itu menghuni seorang bocah dari bangsa Yakoo. Maka ketika dalam tubuh Chagum diperkirakan tengah bersemayam sosok iblis air yang pernah dikalahkan oleh Torugaru, demi menjaga kehormatan dan wibawa keluarga istana, Sang Mikado, penguasa New Yogo yang tak lain adalah ayah kandung Chagum dan Para Penafsir Bintang, sebuah institusi penasihat istana berusaha membunuh Chagum secara diam-diam.<br />
<span id="more-54"></span><br />
Balsa adalah seorang petarung wanita tiga puluh tahun yang berasal Kanbal, Negara yang berada di utara New Yogo. Ia ahli bela diri dan mahir memainkan tombak pendek serta terkenal karena kebaikannya dalam menolong anak kecil dan orang miskin. Ia telah bersumpah untuk menyelamatkan delapan nyawa demi menebus delapan nyawa yang telah dikorbankan untuk menyelamatkan dirinya.</p>
<p>Dalam pelariannya bersama Chagum, Balsa menyadari bahwa tugasnya dalam menjadi pengawal pangeran kedua itu tidak semudah yang ia bayangkan. Ia menyadari bahwa selain harus menghadapi para Pemburu suruhan sang Mikado, ia juga tengah berhadapan dengan kekuatan yang berasal dari dunia lain. Seiring waktu, kebenaran mulai terkuak. Apa yang tengah bersemayam dalam tubuh Chagum adalah telur dari Nyunga Ro Im, roh air.</p>
<p>Dalam kepercayaan Bangsa Yakoo, ada dua buah dunia yang saling berdampingan yaitu Sagu, dunia manusia yang kasat mata, dan Nayugu, dunia roh yang tak kasat mata. Nyunga Ro Im adalah roh penghuni Nayugu yang hembusan nafasnya akan menghasilkan awan penghasil hujan baik di dunia Nayugu dan Sagu. Menjelang kematiannya selama seratus tahun sekali, Nyunga Ro Im mengeluarkan telur yang salah satunya dititipkan ke dalam tubuh seorang bocah dari dunia Sagu. Sang pembawa telur itulah yang disebut Moribito. Dan Chagum telah terpilih untuk menjadi Moribito. Keselamatan telur itu akan menyelamatkan New Yogo dari ancaman bencana kekeringan.</p>
<p>Keadaan semakin sulit ketika ternyata tidak hanya keluarga Istana yang menginginkan Chagum, tetapi sesosok monster pemakan telur dari dunia Naguyu yang bernama Rarunga juga menginginkan telur itu. Seratus tahun sebelumnya Rarunga berhasil membunuh sang Moribito dan mencabik-cabik tubuhnya untuk memakan telur Nyunga Ro Im. Bersama Tanda, kawan masa kecil Balsa yang ahli obat-obatan dan Master Torogai, sang juru tenung sekaligus guru mereka berdua, mereka berusaha menyelamatkan sang Moribito dari Rarunga dan berusaha menyadarkan para Pemburu dan para Penafsir Bintang akan ancaman sebenarnya yang mereka hadapi.</p>
<p>Dengan berlatar dunia khayal New Yogo yang dalam beberapa hal penggambarannya dipengaruhi oleh kultur masyarakat Jepang abad pertengahan, novel ini memiliki nuansa yang hampir sama dengan anime dan manga Jepang pada umumnya. Kepercayaan terhadap adanya Roh Tanah, Roh Air dan keberadaan dunia roh yang berdampingan dengan dunia manusia adalah gambaran dari kultur animisme masyarakat Jepang yang seringkali menjadi inspirasi bermacam kisah anime dan manga.  Pun, novel ini telah diadaptasi ke dalam dua bentuk budaya popular jepang tersebut.</p>
<p>Lebih dari sekedar cerita fantasi remaja biasa, Moribito memuat kebijaksanaan-kebijaksanaan dan ungkapan-ungkapan filosofis yang layak untuk direnungkan. Bahwa seringkali manusia tidak bisa mengelak dari takdir yang harus dijalaninya. Balsa memiliki masa kecil yang pahit yang membuatnya harus bertahan hidup dan menempa diri di dunia yang keras meskipun ia hanyalah seorang perempuan. Menyadari bahwa delapan nyawa telah terrenggut demi menyelamatkan nyawanya, ia pun bertekad akan menyelamatkan delapan nyawa sebagai gantinya, meskipun untuk itu ia harus melenyapkan nyawa yang lain.</p>
<p>Seiring perjalanan dan pertempuran, hubungan antara Balsa dan Chagum berubah dari hanya sebatas hubungan antara pengawal pribadi dan kliennya menjadi lebih dekat dan dalam. Chagum berubah dari seorang Pangeran kedua yang seumur hidupnya tinggal di istana dengan segala kesopanan dan tata kramanya, menjadi seorang bocah yang harus bisa bertahan hidup di kehidupan rakyat biasa sambil terus berpikir kenapa harus dia yang terpilih untuk menjadi Moribito.</p>
<p>Moribito juga menyentuh sisi kesenjangan budaya karena pengaruh dari kolonialisasi. Bangsa Yakoo sebagai penduduk asli Semenanjung Nayoro sebelum kedatangan Bangsa Yogo, sedikit demi sedikit mulai kehilangan budaya aslinya karena tersisihkan dan juga karena pembauran. Demikian halnya legenda asli bangsa Yakoo tentang Nyunga Ro Im dimanipulasi sedemikian rupa demi mengukuhkan dominasi dan kekuasaan negara. Legenda yang telah dimanipulasi inilah yang akhirnya diceritakan secara turun temurun dan dipercayai sebagai sebuah kebenaran.</p>
<p>Moribito, Guardian of The Spirit adalah buku pertama dari sepuluh buku. Sang pengarang, Nahoko Uehashi adalah seorang professor etnologi di Universitas Jepang. Novel ini memenangkan penghargaan Batchelder Award 2009, sebuah penghargaan yang diberikan untuk buku anak-anak yang diterbitkan dalam bahasa Inggris di Amerika, yang dianggap lebih menonjol daripada buku aslinya yang diterbitkan dalam bahasa non-Inggris di negara non-Amerika. <strong>(Adi Toha)</strong></p>
<p>Judul Buku : Moribito, Guardian of The Spirit<br />
Pengarang : Nahoko Uehashi<br />
Penerbit : Penerbit Matahati<br />
Tahun Terbit : Cetakan I, November 2009<br />
Tebal : 346</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://resensiana.com/moribito-guardian-of-the-spirit-nahoko-uehashi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The History of Love &#8211; Nicole Krauss</title>
		<link>http://resensiana.com/the-history-of-love-nicole-krauss/</link>
		<comments>http://resensiana.com/the-history-of-love-nicole-krauss/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 06:18:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Terjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[Nicole Krauss]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://resensiana.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[1. Cinta dan Kehilangan
The history of lovePada suatu masa kau pernah mencintai seseorang dan seseorang itu mencintaimu. Cintanya kepadamu membuatmu berjanji tidak akan pernah mencintai seseorang yang lain sepanjang hidupmu. Pada suatu masa seseorang yang kau cintai itu pergi ke negeri yang jauh. Berhari, berminggu bertahun tanpa kabar. Lalu kau menulis surat-surat untuknya namun kau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" title="historyoflove" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/the-history-of-love.jpg?w=150&amp;h=210" alt="" width="150" height="210" /><strong>1. Cinta dan Kehilangan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">The history of lovePada suatu masa kau pernah mencintai seseorang dan seseorang itu mencintaimu. Cintanya kepadamu membuatmu berjanji tidak akan pernah mencintai seseorang yang lain sepanjang hidupmu. Pada suatu masa seseorang yang kau cintai itu pergi ke negeri yang jauh. Berhari, berminggu bertahun tanpa kabar. Lalu kau menulis surat-surat untuknya namun kau tak yakin surat-surat itu akan sampai. Pada suatu masa kau bertekad akan menyusul seseorang itu, dengan cara apapun kau akan menemuinya. Pada suatu masa setelah bertahun-tahun menjalani perjalanan panjang dan berat, sampai harus bertaruh nyawa dengan maut, kau berhasil menemuinya. Cintanya kepadamu masih seperti dulu, tapi ia tidak bisa ikut bersamamu karena ia telah menikah dengan orang lain dan memiliki anak. Pada suatu masa kau menepati janji yang pernah kau ucapkan untuk tidak akan mencintai orang lain sepanjang hidupmu. Pada suatu masa akhirnya pergi dan menghilang, bertahan hidup sendiri dengan kenangan-kenangan manis dan cintamu kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Lelaki Tua Tukang Kunci</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Leo Gursky adalah seorang lelaki tua tukang kunci. Ia tinggal di sebuah apartemen di New York. Setelah beberapa puluh tahun berusaha menjalani hidup tanpa menarik perhatian orang lain, pada umur 80 tahun ia merasakan ketakutan akan kematian. Ketakutan terbesarnya adalah mengalami kematian saat tidak ada seorang pun yang melihat dan memperhatikannya. Maka ia mencoba menarik perhatian orang-orang agar orang-orang mengingatnya. Ia sengaja menjatuhkan uang-uang receh dari kantongnya di sebuah toko, ia menjadi model telanjang untuk sebuah kelas melukis, dan hal-hal kecil yang membuat ia bisa dilihat orang. Meski Leo bukan pengarang, ia sangat pandai menulis cerita. Pada umur dua puluh tahun, ia pernah menulis sebuah naskah yang tidak pernah diterbitkannya, bahkan tidak pernah dibaca oleh orang lain. Naskah itu ia tulis sebagai kenangan cintanya untuk Alma Mereminski, satu-satunya gadis yang dicintainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Leo berasal dari Slonim, Polandia. Ia selamat dari pembantaian pasukan Nazi dan berhasil lari ke New York menyusul Alma yang terlebih dahulu diberangkatkan oleh ayahnya ke New York. Leo pernah berjanji akan menyusul Alma. Maka ketika ia telah sampai di New York, ia segera mencari alamat Alma untuk menemuinya.<br />
<span id="more-42"></span><br />
<strong>3. Alma Singer</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Alma, begitulah namanya. Ia seorang gadis empat belas tahun yang bercita-cita menjadi seorang naturalis dan bisa bertahan hidup di alam liar. Oleh ibunya, ia diberi nama sesuai dengan nama setiap gadis dalam buku “The History of Love” pemberian ayahnya kepadanya. Ayahnya meninggal ketika Alma berumur tujuh tahun. Ibunya tak pernah berhenti mencintai ayahnya, sehingga ia menolak setiap lelaki yang ingin berkencan dengannya. Untuk mengambarkan tentang perasaan ibunya terhadap ayahnya, Alma mengutip perkataan pelukis dan pematung Alberto Giacometti yang pernah diceritakan oleh pamannya kepadanya, “kadang-kadang untuk sekedar melukis kepala, keseluruhan tubuh mesti dikorbankan. Untuk melukis daun, keseluruhan lanskapnya harus dienyahkan. Mulanya memang kau seakan-akan membatasi diri dengan cara itu, tapi setelah beberapa waktu kau menyadari bahwa cukup dengan memiliki seperempat inci sesuatu, kaulebih punya kemungkinan mempertahankan perasaan tertentu akan alam semesta, disbanding kalau kau pura-pura melukis keseluruhan langit.” Dan ibunya telah memilih ayahnya, dan demi mempertahankan perasaan itu, dia mengenyahkan seluruh dunia dan tenggelam di balik kamus-kamus. Ibunya seorang penerjemah buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenangan Alma terhadap ayahnya hanyalah sepotong-sepotong, tidak utuh. Alma hanya mendengar cerita tentang ayahnya dari ibunya. Maka ketika sebuah surat tiba-tiba datang dari seseorang, meminta ibunya untuk menerjemahkan buku “The History of Love” ke dalam bahasa Inggris, Alma seolah menemukan jalan untuk mencari tahu lebih banyak tentang ayahnya. Alma juga berpikir, barangkali dengan mencari tahu tentang ayahnya dari buku itu, ia bisa menemukan orang yang tepat untuk membahagiakan ibunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulailah Alma menelusuri petunjuk demi petunjuk untuk mencari tahu siapakah sebenarnya Alma dalam buku yang telah menginspirasi kedua orang tuanya untuk menamainya Alma. Dia penasaran, mengapa seseorang dalam surat itu menyuruh ibunya untuk menerjemahkan buku itu semata-mata demi keperluan pribadinya. Seseorang itu mengaku, semasa kecilnya, ibunya pernah membacakan beberapa halaman dari buku “The History Of Love”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. The History Of Love – Zvi Litvinoff</strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Wanita yang pertama diciptakan mungkin Hawa, tapi gadisku yang pertama tetap Alma.” Demikian salah satu petikan dalam buku The History Of Love. Zvi Litvinoff adalah seorang pengarang tidak cukup dikenal yang melarikan diri dari Polandia ke Chili pada tahun 1941. Satu-satunya karyanya adalah buku “The History Of Love” yang diterbitkan dalam bahasa Spanyol. Sebagaimana pengarangnya, buku itu juga tidak cukup dikenal. Cetakan pertamanya dicetak sebanyak dua ribu eksemplar. Dari dua ribu eksemplar tersebut hanya beberapa yang dibeli dan dibaca orang, namun setidaknya, ada satu copy yang ditakdirkan mengubah kehidupan beberapa orang. Satu copy itu mulanya tersimpan di sebuah gudang lembab di kota Santiago, lalu kemudian dikirim ke sebuah toko buku di Buenos Aires dan selama beberapa tahun tak tersentuh, terselip di antara buku-buku lain yang lebih tebal dan lebih menarik. Ketika toko buku itu berganti pemilik, buku itu kembali tersimpan di gudang yang lebih jorok dari sebelumnya, sebelum akhirnya dikirim ke sebuah toko buku bekas kecil di dekat rumah Jorge Luis Borges.</p>
<p style="text-align: justify;">Si pemilik toko buku bekas itu menyisihkah buku itu dan membacanya ketika tokonya sedang sepi. Setelah menyelesaikan membaca buku itu di sela-sela kesibukan melayani pembeli, ia tahu bahwa buku itu sangat berharga. Kemudian ia menaruh buku itu di jendela toko, namun tidak berusaha menarik perhatian para pengunjung tokonya terhadap buku itu. Ia tahu, di tangan yang salah, buku itu akan menjadi sia-sia. Maka dibirkannya buku itu di tempatnya, berharap pembaca yang tepat akan menemukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan pada suatu siang, seorang pemuda jangkung berasal dari Israel yang baru saja menyelesaikan wajib militernya dan tengah berkelana di Amerika Selatan selama beberapa bulan mengambil buku itu dan membelinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5. Zvi Litvinoff</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1941 ia melarikan diri dari Polandia ke Chile untuk menghindari pembunuhan besar-besaran oleh pasukan Nazi. Tidak banyak informasi yang diketahui oleh publik selain kata pengantar yang dituliskan oleh istrinya Rosa Litvinoff di cetakan kedua buku “The History of Love” yang diterbitkan setelah kematian Zvi Litvinoff. Satu-satunya karya yang pernah diterbitkannya adalah buku “The History of Love” yang ia salin dari bahasa Yiddish ke bahasa Spanyol dari sebuah naskah tulisan tangan milik temannya. Mengira bahwa temannya itu telah meninggal dalam pembantaian, ia menerbitkan naskah itu atas namanya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6. Anak Yang Tidak Pernah Tahu Siapa Ayahnya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu masa seorang gadis terpaksa pergi dari Polandia ke Amerika. Beberapa minggu setelah kedatangannya, ia mengetahui bahwa ia mengandung janin hasil percintaannya dengan lelaki yang dicintainya semenjak kecil. Laki-laki itu telah berjanji kepadanya tidak akan mencintai gadis lain selain dirinya. Pada suatu masa ia mendapat kabar bahwa telah terjadi pembantaian besar-besar di kampung halamannya, tempat lelaki yang dicintainya tinggal. Ia mengira, lelaki yang dicintai ikut menjadi korban pembantaian. Setelah melahirkan seorang bayi laki-laki, ia menikah dengan seorang lelaki lain. Bayi laki-laki itu diberi nama Isaac Moritz. Setelah dewasa, ia menjadi seorang pengarang terkenal di Amerika. Salah satu bukunya berjudul The Remedy. Ia tidak tahu, jika ayah kandungnya selalu mengikuti perkembangan dirinya, termasuk karier kepenulisannya. Ia tidak tahu jika ayahnya selalu menyimpan foto-foto dan berita tentang dirinya. Ia tidak tahu, bakat kepengarangannya diwarisi dari ayahnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>7. The History Of Love – Nicole Krauss</strong></p>
<p style="text-align: justify;">The History of Love adalah novel di dalam novel dengan kisah yang kompleks dengan alur yang berpindah-pindah antara masa kini dan masa lalu serta dinarasikan oleh beberapa narator. Narator utama adalah Leo Gursky dan Alma Singer. Pada satu bagian, Leo menarasikan hari-hari tuanya di apartement bersama Bruno, tetangganya yang juga teman masa kecilnya di Polandia, ketakutannya akan kematian, dan kenangannya akan Alma. Pada bagian lain, Alma menarasikan kehidupannya bersama ibu dan adik laki-lakinya, Bird; tentang kehilangan dan kesedihannya sepeninggal ayahnya, dan tingkah aneh adiknya. Dan pada bagian lain, adalah narasi oleh narator tentang Zvi Litfinoff dan beberapa kutipan dari buku misterius itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Alur yang bergerak maju mundur dan sudut pandang yang berubah-ubah dari satu tokoh ke tokoh lain membuat buku ini menarik, menghibur dan menantang untuk diikuti. Membacanya seakan tengah berjalan menyusuri labirin demi labirin misteri tentang buku misterius The History Of Love, labirin kehidupan dan kesepian Leo dan semangat hidup dan pencarian Alma muda. Pengarang berhasil menghidupkan tokoh-tokoh dalam novel ini terasa begitu dekat dan memorable.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana layaknya sebuah kisah misteri, petunjuk demi petunjuk mulai terbuka seiring berjalan alur mendekati halaman terakhir. Namun lantas tidak menjadikan buku ini sekedar cerita misteri. Di dalamnya akan banyak ditemukan filosofi indah tentang hubungan antar manusia, tentang cinta, kehilangan dan kematian. Pengarang berhasil menyatukan kepingan-kepingan kisah dari masing-masing tokohnya menjadi sebuah kisah yang utuh, menyentuh, mengharukan sekaligus mengundang tawa, karena tidak jarang terselip humor-humor yang cerdas dan menyegarkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>7. Suami-Istri Pengarang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">The History of Love yang terbit pada tahun 2005 adalah karya kedua Nicole Krauss. Karya sebelumnya adalah novel berjudul Man Walks into a Room yang terbit pada tahun 2002. Di tahun yang sama, Jonathan Safran Foer yang kemudian menjadi suaminya, menerbitkan Everything Is Illuminated. Nicole Krauss dan Jonathan safran Foer menikah pada tahun 2004. Di tahun 2005, bersamaan dengan terbitnya The History Of Love, Jonathan Safran Foer menerbitkan novel berjudul Extremely Loud and Incredibly Close. Untuk lulus dari Oxford University Nicole Krauss menulis tesis tentang seniman Amerika Joseph Cornell, sementara Foer pada tahun 2001 mengedit sebuah buku antologi yang terinpirasi dari karya-karya Josep Cornell. Sebuah kebetulan kah? Bagaimana pun juga, keduanya adalah pasangan pengarang yang cemerlang, yang karya-karyanya diakui oleh dunia.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>8. Novel di Dalam Novel</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Novel di dalam novel, atau fiksi di dalam fiksi adalah salah satu bentuk turunan dari metafiksi. Metafiksi adalah fiksi yang secara langsung atau tidak langsung mengabarkan dirinya sebagai sebuah cerita rekaan. Novel atau karya fiksi yang termasuk ke dalam bentuk metafiksi di antaranya sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li> Fiksi tentang seorang pengarang dalam membuat cerita.</li>
<li>Fiksi tentang seorang pembaca membaca sebuah novel.</li>
<li>Fiksi di dalam fiksi, atau novel di dalam novel.</li>
<li>Fiksi yang di dalamnya narator menunjukkan dirinya sebagai pengarang cerita.</li>
<li>Fiksi yang mengajak pembaca untuk berinteraksi secara langsung dengan cerita.</li>
<li>Fiksi non-linear yang bisa dibaca dalam urutan apapun, tidak harus dari awal sampai akhir.</li>
<li>Fiksi yang di dalamnya terdapat catatan kaki yang alih-alih hanya mengomentari, melanjutkan ceritanya sendiri.</li>
<li>Fiksi yang di dalamnya pengarang juga termasuk dalam tokoh cerita.</li>
<li>Fiksi yang memiliki latar, waktu dan karakter yang paralel dengan karya fiksi sebelumnya baik dari pengarang yang sama maupun pengarang yang berbeda, tetapi diceritakan dalam perspektif yang berbeda.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Buku The History of Love karya Zvi Litvinoff tentu saja adalah Fictional book within fictional work. Tidak usah bersusah payah mencari siapakah Zvi Litvinoff, sang pengarang buku tersebut dari sumber lain selain The History of Love karya Nicole Krauss.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>9. Kesetiaan dan Keteguhan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari teknik penulisan Krauss yang lain dengan novel pada umumnya, novel ini memang membicarakan tentang cinta. Seberapa besar penghargaan dan penilaian manusia terhadap cinta. Seberapa teguh manusia dalam memenuhi janjinya. Meskipun seumur hidupnya Leo Gursky hidup sendiri dan menjadi pecundang dengan menghilang dari publik dan keramaian, dia tetap adalah seorang pemenang. Ia telah memenuhi janjinya kepada Alma Mereminsky untuk tidak mencintai gadis lain sepanjang hidupnya dan bertahan hidup dengan kenangan indah dan cintanya kepada Alma, satu-satunya gadis yang dicintainya. Charlotte Singer, ibu Alma, adalah sosok istri yang setia menjaga cintanya kepada suaminya meskipun suaminya telah meninggal. Ia tenggelam dalam kesibukannya menerjemahkan buku-buku dan tidak berniat untuk mencari pengganti suaminya. Suaminya akan selalu hidup dalam ingatannya. Rosa Litvinoff, adalah sosok istri yang menerima dan memaafkan apa adanya suaminya meskipun ia tahu sebuah kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh suaminya yang tak pernah dikatakannya sampai suaminya meninggal. Kebenaran yang jika diungkap akan menjatuhkan nama baik dirinya dan suaminya di mata orang-orang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>10. Leo dan Alma</strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Pada suatu masa ada seorang anak laki-laki yang mencintai seorang anak perempuan, suara tawa si anak perempuan adalah pertanyaan yang seumur hidup ingin dijawab oleh si anak lelaki. Ketika mereka berumur sepuluh, si anak lelaki meminta si anak perempuan menikah dengannya. Ketika mereka berumur sebelas, dia mencium si anak perempuan untuk pertama kali. Ketika mereka berumur tiga belas, mereka bertengkar dan selama tiga minggu tidak saling bicara. Ketika mereka berumur lima belas, si anak perempuan menunjukkan padanya bekas luka di payudara kirinya. Cinta mereka adalah rahasia yang tidak mereka bagikan pada siapapun. Si anak lelaki berjanji takkan pernah mencintai gadis lain sepanjang hidupnya.” (The History Of Love)<br />
<strong><br />
11. Sebelas</strong></p>
<p style="text-align: justify;">… bersyukur karena dunia ini telah dengan sengaja menciptakan pemisahan-pemisahan, dengan maksud agar kita bisa mengatasinya, agar kita bisa merasakan suka cita sebuah kedekatan, meski jauh di dalam kita tak pernah bisa melupakan kesedihan akibat perbedaan-perbedaan yang tak terseberangi antara kita. (The History of Love)</p>
<blockquote style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Catatan :<br />
Sengaja saya menggunakan penomoran dalam penulisan ulasan ini, mengikuti cara Alma dalam menceritakan kisahnya dalam buku ini.</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://resensiana.com/the-history-of-love-nicole-krauss/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahara &#8211; Nugraha Wasistha</title>
		<link>http://resensiana.com/sahara-nugraha-wasistha/</link>
		<comments>http://resensiana.com/sahara-nugraha-wasistha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 06:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Nugraha Wasistha]]></category>
		<category><![CDATA[Serambi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://resensiana.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Jika Alan Moore pernah menulis The League of Extraordinary Gentleman yang mempertemukan tokoh-tokoh dari berbagai novel klasik dunia mulai dari Captain Nemo (tokoh ciptaan Jules Verne dalam 20.000 Leagues Under The Sea), Dr. Jekyl (tokoh ciptaan Robert Louis Stevenson dalam novel Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde), Dorian Gray (tokoh ciptaan Oscar Wilde [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/03/SAHARA.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-39" title="SAHARA" src="http://resensiana.com/wp-content/uploads/2010/03/SAHARA-190x300.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Jika Alan Moore pernah menulis The League of Extraordinary Gentleman yang mempertemukan tokoh-tokoh dari berbagai novel klasik dunia mulai dari Captain Nemo (tokoh ciptaan Jules Verne dalam 20.000 Leagues Under The Sea), Dr. Jekyl (tokoh ciptaan Robert Louis Stevenson dalam novel Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde), Dorian Gray (tokoh ciptaan Oscar Wilde dalam The Picture of Dorian Gray) dan tokoh-tokoh lainnya, maka Nugraha Wasistha mempertemukan tiga tokoh utama yang berbeda latar dan jaman dalam kisah 1001 malam di novel perdananya yang berjudul Sahara. Bahwa Alan Moore dan Nugraha Wasistha sama-sama bergiat di dunia komik, adalah sebuah kebetulan lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Lupakan sosok Aladdin yang lugu dan jin lampu yang konyol dan kocak di film Disney. Lupakan sosok Sinbad sang pelaut. Lupakan tentang Ali Baba dan 40 penyamun. Lupakan segala sesuatu tentang ketiganya yang kalian ketahui dari kisah 1001 Malam. Meski novel ini bercerita tentang Sinbad, Ali Baba dan Aladin serta Jin lampu yang bertemu dalam satu masa, namun novel ini menceritakan kisah yang sama sekali lain dari kisah yang kalian ketahui dari kisah 1001 malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sinbad, seorang petualang cum mubalig yang berkelana ke seluruh penjuru dunia untuk mendakwahkan ajaran Islam. Ia memiliki slogan: tobat atau mati! Ia tidak sembarang berdakwah, yang menjadi sasaran dakwahnya adalah penjahat-penjahat kelas kakap. Satu-satunya penjahat yang tidak dibunuh karena berjanji akan bertobat adalah Abdul Karir. Bekas penjahat yang akhirnya menjadi saudagar kaya raya itu meminta bantuan Sinbad untuk menggagalkan rencana pencurian permata langka miliknya oleh seorang pencuri ulung di Istambul.<br />
<span id="more-38"></span><br />
Ali Baba, bocah pencuri yang terkenal lihai dan tidak pernah gagal. Ia berencana mencuri permata paling langka di dunia yang dimiliki oleh Abdul Karir. Rencananya ini bahkan dikabarkan ke khalayak ramai dan menjadi taruhan banyak orang. Bertemulah Ali Baba dan Sinbad dalam sebuah aksi kejar-kejaran, terjun dari atap dan mendarat di atas tenda penjual buah, di antara kerumunan bazaar, dan melewati gang-gang sempit Istambul. Sewajarnya aksi pengejaran dalam film-film.</p>
<p style="text-align: justify;">Di akhir pengejaran, Aladdin, seorang sultan muda tiba-tiba muncul di atas permadani terbangnya. Ia meminta bantuan keduanya untuk mengambil kembali lampu ajaib miliknya. Diceritakan, Aladdin terusir dari istananya di tengah gurun Sahara karena lampu ajaib dikuasai oleh istrinya. Aladdin berniat merebut dan menghancurkan lampu ajaib itu karena hendak kembali ke jalan yang benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiganya mulai melakukan perjalanan menuju Sahara. Lewat dialog-dialog yang halus dan lancar, masing-masing tokoh berbeda latar belakang ini mulai saling mengenal lebih dalam. Ali Baba pernah mengalami peristiwa yang sangat pahit di masa kecilnya sehingga ia tidak mempercayai Tuhan. Sinbad memiliki alasan kenapa dia menjadi mubalig dan berjuang di jalan Islam. Aladdin berkisah tentang dirinya sebelum dan sesudah menemukan lampu ajaib, sampai akhirnya dia terusir dari istananya sendiri. Ali Baba yang cerdik dan tukang ngeyel, Sinbad yang keukeuh dengan dakwahnya dan Aladdin yang cenderung misterius menjadi kombinasi yang apik dalam menggulirkan petualangan-petualangan berikutnya yang akan mereka hadapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemunculan seseorang dari masa lalu Aladdin menambah cerita menjadi semakin menegangkan dan mengasyikkan sekaligus membuat penasaran. Mereka kemudian bersatu bahu membahu dalam menghadapi jin lampu yang tidak mudah begitu saja kembali ke tangan Aladdin. Jin lampu telah menyiapkan serangkaian jebakan, tipuan dan tantangan maut yang harus dilalui. Hanya yang berhasil selamat lah yang berhak menjadi Tuan dari jin lampu.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti kecenderungan cerita petualangan yang berurusan dengan maut dan melibatkan sebuah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang, sebahaya apapun tantangan yang harus dihadapi, sang tokoh(-tokoh) utama selalu berhasil menyelamatkan diri dan tokoh(-tokoh) pembantu lah yang selalu menjadi korban. Demikian juga cerita petualangan dalam buku ini. Bisa ditebak, siapa saja yang akan selamat pada akhirnya untuk menuntaskan cerita. Teman bisa berubah menjadi lawan dan sebaliknya. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi kenikmatan dalam mengikuti kisah yang disajikan dalam buku ini. Penuturan yang cepat dan visualisasi adegan demi adegan laga yang tergarap dengan baik, membuat kisah petualangan ini sangat sayang untuk dilewatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih dari sekedar kisah petualangan, banyak pesan moral yang disampaikan lewat dialog-dialog dan perkembangan karakter tokoh-tokohnya. Bahwa selalu ada sisi baik pada setiap orang sejahat apapun orang itu, membuat Sinbad kembali mempertanyakan jalan dakwah yang telah dijalaninya. Terlebih, perdebatannya dengan Ali Baba yang tidak mudah begitu saja untuk diberi nasihat tobat dan selalu melontarkan kritik-kritik cerdas, membuat Sinbad mempertanyakan kembali akan kebenaran tindakannya dalam berdakwah.</p>
<p style="text-align: justify;">Selalu ada misteri yang hendak diungkap di setiap cerita petualangan. Demikian halnya ada misteri besar dibalik lepasnya lampu ajaib dari tangan Aladdin. Misteri yang dijaga oleh pengarang dan baru diungkap secara mengejutkan di bagian akhir. (Adi Toha)</p>
<p style="text-align: justify;">Judul Buku : Sahara – Ketika Aladdin, Ali Baba, dan Sinbad Bertarung dengan Jin Sakti<br />
Pengarang : Nugraha Wasistha<br />
Penerbit : Serambi<br />
Cetakan : Agustus 2009<br />
Tebal : 335 Halaman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://resensiana.com/sahara-nugraha-wasistha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
