Dalam Across The Nightingale Floor, yang merupakan buku pertama dari Trilogi Klan Otori, diceritakan bahwa Otori Shigeru, pewaris Klan Otori, menemukan dan menyelamatkan seorang pemuda bernama Tomasu di desa terpencil bernama Mino. Tomasu kelak menjadi anak angkatnya, berganti nama menjadi Otori Takeo dan memegang peranan penting dalam pembalasan dendamnya terhadap musuh bebuyutan Shigeru, Iida Sadamu, pimpinan Klan Tohan.

Penyelamatan Takeo seolah-olah sebuah kebetulan dan keberuntungan dari surga bagi Shigeru. Takeo adalah sosok yang unik. Dalam diri Takeo mengalir darah Tribe, sebuah suku rahasia yang memikili bermacam keahlian tempur melebihi manusia biasa yang menjadikan mereka memiliki peranan tersembunyi dalam peta kekuasaan di Tiga Negara. Namun Takeo dibesarkan dalam ajaran Hidden, sebuah ajaran rahasia mirip dengan ajaran Kristen. Mereka menganut tuhan yang satu yang disebut sebagai Sang Rahasia, memiliki paham kesetaraan manusia dan melarang pembunuhan serta bunuh diri,. Karena memiliki banyak pertentangan dengan ajaran yang dianut oleh golongan ksatria dan penguasa feodal, maka penganut Hidden diburu dan dibantai oleh Klan Tohan dan pengikut-pengikutnya. Dan penyelamatannya oleh Shigeru, menjadikan Takeo seorang Otori. Tiga kekuatan penting dalam Tiga Negara bersatu dalam sosok Takeo.

Tiga Negara adalah wilayah yang masing-masing dikuasai oleh klan-klan. Negeri Barat dikuasai oleh klan Seishuu yang terdiri dari klan-klan kecil: klan Maruyama, klan Arai, dan klan Shirakawa. Negeri Tengah diadalah wilayah klan Otori. Sedangkan Negeri Timur dikuasai oleh Klan Tohan. Tribe berada di tengah-tengah peta kekuasaan itu mengambil keuntungan dengan bekerja sebagai mata-mata kepada pihak yang mampu membayar paling tinggi. Sementara itu, secara damai dan tersembunyi, penganut Hidden menjalankan ajarannya.

Heaven’s Net is Wide adalah prequel dari trilogi dan satu sekuel kisah klan otori: Across The Nightingale Floor, Grass for His Pillow dan Brilliance of The Moon serta the Harsh Cry of the Heron. Jika pada trilogi dan sekuelnya, kisah berpusat pada Otori Takeo, maka pada prequel ini kisah berpusat pada Otori Shigeru, semenjak ia berusia dua belas tahun dan berakhir tepat ketika ia menemukan Takeo. Konon kabarnya, prequel ini ditulis untuk memuaskan rasa penasaran pembaca terhadap sosok Otori Shigeru, sosok ksatria bijak, welas asih dan kharismatik yang menjadi ayah angkat sekaligus guru kehidupan bagi Otori Takeo. Sebagai prequel, buku ini memberikan latar belakang kisah yang kompleks, berjalin berkelindan, dengan bermacam tokoh dan peristiwa penting yang tidak diceritakan secara mendetail dalam keempat buku yang terbit sebelumnya.

Novel ini dibuka dengan pertarungan tidak seimbang antara dua lelaki yang bernama Kotaro dan Isamu. Bagi mereka yang telah menamatkan Kisah Klan Otori pasti mengenal dua nama ini. Ya, Kotaro kelak akan menjadi kepala keluarga Kikuta, keluarga utama di kalangan Tribe di mana Takeo adalah salah satu garis keturunannya. Sedangkan Isamu adalah ayah kandung Takeo. Isamu membelot dari Tribe dan memilih untuk menyepi di desa terpencil sambil menganut ajaran Hidden. Hukuman bagi mereka yang membelot dari Tribe adalah mati. Kotaro diutus untuk menghukum Isamu.

Tribe dipekerjakan oleh penguasa klan sebagai mata-mata dan pembunuh bayaran. Penguasa klan yang banyak mempekerjakan Tribe adalah klan Tohan di wilayah timur, yang tengah bergiat menundukkan klan-klan kecil untuk bergabung di bawah kekuasaan klan Tohan. Sementara di negeri tengah yang dikuasai oleh klan Otori, situasinya relatif damai.

otorysymbolKlan Otori dipimpin oleh Otori Shigemori. Otori Shigeru adalah putra pertamanya. Ia dibesarkan dalam pengajaran yang ketat tentang keberanian, kesetiaan dan kehormatan sebagai seorang ksatria sekaligus calon pewaris klan. Pada umur lima belas tahun, ia dikirim ke biara Terayama untuk berguru kepada Matsuda Shingen, pendekar ternama di Tiga Negara yang telah pensiun dan mengabdikan diri menjadi biksu. Di bawah pengajaran Matsuda, ia ditempa secara fisik dan mental lewat latihan pedang, tongkat dan meditasi. Shigeru sekaligus belajar tentang kesabaran, kearifan, kebijaksanaan dan menahan hawa nafsu serta ajaran lain yang berguna sebagai bekalnya dalam mempersiapkan diri menjadi ksatria pewaris klan Otori.

Intrik kekuasaan dan adanya ancaman dari klan Tohan di wilayah perbatasan membuat Shigeru selalu waspada dan curiga kepada siapapun yang berpotensi melemahkan dan menghancurkan dirinya. Matsuda tidak luput dari sasaran kecurigaannya. Dalam sebuah latihan pertarungan, dengan kecurigaan dan emosi yang memuncak, Shigeru mengalahkan gurunya itu, bahkan hampir membunuhnya. Dilanda kepanikan yang sangat, ia berusaha mencari bantuan. Peristiwa ini mempertemukannya dengan seorang laki-laki dari Tribe yang belakangan diketahui bernama Muto Kenji yang akan menjadi sahabatnya. Persahabatan dengan Muto Kenji inilah yang memberikan Shigeru akses untuk mengetahui lebih jauh tentang Tribe.

Heaven’s Net is Wide tidak melulu menceritakan dunia lelaki dan ksatria dengan segala pertarungannya. Sebagai sosok lelaki, Shigeru tak lepas dari hasrat badaniah terhadap perempuan. Hal inilah yang mempertemukannya dengan Akane, pelacur terkenal dari Rumah Kamelia yang akhirnya dijadikan selir. Berlanjut kepada pernikahan Shigeru dengan Yanagi Moe. Dan terakhir adalah pertemuannya dengan Maruyama Naomi, pemimpin Klan Maruyama, satu-satunya klan yang menganut garis keturunan perempuan sebagai pemimpin tertinggi. Juga, interaksi Shigeru dengan Tribe mempertemukannya dengan Muto Shizuka, perempuan Tribe yang menjadi mata-mata.

Keempat tokoh perempuan tersebut dengan segala peran dan kelebihannya seolah menjadi representasi perempuan dalam dunia feodal yang dikuasai laki-laki. Akane dengan kelebihan seksualnya, Yanagi Moe dengan kelebihan kebangsawanannya, Maruyama Naomi dengan kelebihan kepemimpinannya, dan Shizuka dengan kelebihan kemampuan Tribe-nya. Kelebihan-kelebihan itulah yang menempatkan mereka dalam perannya masing-masing di tengah peta kekuasaan dan kekuatan laki-laki. Akane menjadi sekedar pemuas nafsu. Yanagi Moe dengan hanya bermodal kedudukannya sebagai bangsawan tanpa disertai dengan kecerdasan sebagai seorang wanita dan istri, hanya menjadi sebatas istri pajangan. Maruyama Naomi dengan segala kelebihan yang dimiliki seorang perempuan pada masa itu, menjadi sekutu sekaligus cinta sejati Shigeru. Shizuka menjadi mata-mata sekaligus pembawa pesan rahasia yang memiliki peranan penting dalam peta kekuasaan antar klan.

Dengan segala kekuatan dan kelemahan Shigeru dalam menghadapi ketakutan, kecurigaan dan nafsunya, menjadikan ketokohan Shigeru pada keseluruhan seri Klan Otori yang telah terbit sebelumnya, seolah lenyap. Secara keseluruhan, Shigeru digambarkan sebagai ksatria biasa yang sangat manusiawi. Barangkali, ketokohan Shigeru mulai nampak setelah kekalahannya di perang Yaegahara, perang besar antara klan Otori dan klan Tohan. Karena pengkhianatan, Otori kehilangan ribuan ksatrianya dan Shigeru harus menerima kenyataan pahit kehilangan ksatria-ksatria tangguh sekaligus kawan-kawan dekatnya. Hanya bunuh diri dengan cara ksatria (Seppuku) yang akan menjadi penyelesaian terhormat. Namun wasiat sang ayah lah menjadikannya tetap bertahan hidup meski dengan segala celaan dan hinaan.

Shigeru kehilangan haknya sebagai pewaris klan Otori dan dia terpaksa menjalani har-harinya dengan berpura-pura acuh tak acuh terhadap persoalan klan. Ia lebih memilih menyibukkan diri mengembara dan mempelajari tentang pertanian, sampai-sampai di seluruh Tiga Negara, ia lebih terkenal sebagai ‘Petani’ daripada sebagai ksatria Otori. Ia menjalankan ajaran kebajikan dan kesabaran sebagai mana yang telah diajarkan oleh Matsuda. Orang-orang tidak mengetahui jika dalam hatinya Shigeru selalu menyimpan bara dendam dan harapan. Ia hanya tengah bersabar sembari mencari jalan untuk menuntaskan rencananya serta menyelidiki siapa yang benar-benar sekutu dan siapa yang benar-benar musuh. Dengan penyamaran ini pula, ia lebih leluasa untuk mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia dengan kekasihnya, Lady Maruyama.

Di kedalaman novel ini adalah kekuatan kesabaran, keyakinan, harapan dan cinta di tengah kenyataan dunia yang tidak bersahabat yang penuh dengan kepentingan politik kekuasaan, pengkhianatan dan ketidakadilan. Sebagai laki-laki dan perempuan, Lord Otori dan Lady Maruyama saling jatuh cinta. Namun, posisi mereka sebagai pewaris klan di tengah peta politik yang tidak mendukung keduanya untuk bersatu, menjadikan keduanya harus menjalani percintaan dengan sembunyi-sembunyi. Namun, selama cinta dan keyakinan masih menyala, akan selalu ada harapan dan jalan untuk mewujudkan impian. Impian keduanya adalah hidup bersama di dunia yang damai. Dan kedamaian di Tiga Negara takkan pernah terjadi selama pemimpin klan Tohan, Iida Sadamu masih hidup.

Sebagai prequel, Lian Hearn menulis Heaven’s Net is Wide dengan sangat cerdas dan menghanyutkan. Ia tidak terburu-buru untuk mengalirkan kisah pada penyelesaian akhir yang sama-sama telah diketahui pada buku yang terlebih dahulu diterbitkan. Setiap elemen peristiwa dan tokoh penting tergarap dengan baik. Barangkali Lian Hearn memiliki kesabaran yang sama dengan kesabaran Shigeru. Kesabaran bangau yang diam tak bergerak, menunggu mangsa mendekatinya. Lian Hearn adalah nama samaran dari Gillian Rubinstein, penulis kelahiran Inggris yang bermukim di Australia. Nama Hearn barangkali dipinjam dari Lafcadio Hearn, salah satu penulis Barat pertama yang menulis tentang mitologi Jepang. Hearn juga dekat dengan Heron –bangau- yang menjadi simbol klan Otori.

Meskipun secara fisik buku ini lebih tebal dari keempat buku lainnya, namun membaca halaman demi halamannya, kita akan hanyut ke dalam dunia Tiga Negara yang dalam banyak sisi adalah fiksionalisasi dari abad pertengahan Jepang. Buku ini sangat layak dibaca baik oleh pembaca yang telah menamatkan keempat buku lain yang terlebih dahulu diterbitkan, maupun oleh pembaca yang hendak memulai mengenal kisah Klan Otori. Pun, sebagai satu buku yang berdiri sendiri, buku ini tidak akan kehilangan kompleksitas dan keutuhannya. Selamat datang di dunia Otori. (Adi Toha)

Judul : Heaven’s Net is Wide
Penulis : Lian Hearn
Penerjemah : Meithya Rose Prasetya
Penerbit : Matahati
Tahun : Cetakan I, November 2009
Tebal : 784 Halaman.

Tags: ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>