Sejarah telah mencatat bahwa pada tanggal 24 Agustus 79 M, pada hari Jupiter, satu hari setelah festival Dewa Api Vulcanalia, gunung Vesuvius yang berdiri kokoh bak singgasana dewa-dewa di teluk Neapolis (Napoli), meletus. Kedahsyatan letusannya mengubur kota-kota terdekat terutama Pompeii dan Herculaneum ke dalam lapisan batu dan abu hingga kedua kota tersebut hilang selama kurang lebih 16 abad. Sejarah juga mencatat, Laksamana Gaius Plinius yang kelak lebih dikenal sebagai Plinius Tua, menjadi salah satu korbannya. Sosok ilmuwan, filsuf, sejarawan, naturalis dan sekaligus panglima angkatan laut Romawi itu meninggal dalam sebuah upaya penyelamatan yang heroik terhadap korban letusan Vesuvius. Sementara dari Misenum, Gaius Plinius Caecilius Secundus, keponakan Plinius Tua, yang kelak lebih dikenal dengan nama Plinius Muda, mengamati dan mencatat detail letusan dan melaporkannya dalam sebuah surat kepada Tacitus, sejarawan Romawi. Surat Plinius Muda tersebut menjadi sumber utama untuk mempelajari salah satu letusan gunung api terdahsyat yang pernah terjadi 19 abad yang lalu.

Robert Harris mengisahkan detik-detik sebelum, saat dan sesudah terjadinya letusan tersebut dalam novelnya yang berjudul Pompeii. Pompeii mengambil latar waktu dua hari sebelum letusan, dan dua hari pada saat letusan. Meski dokumentasi tentang letusan Vesuvius telah beberapa kali dibuat, salah satunya adalah film dokumenter  oleh BBC dengan judul Pompeii: The Last Day, namun novel ini menjadi menarik, selain karena didasarkan pada riset mendalam dalam penggambaran kondisi sosial masyarakat Pompeii pada masa itu, juga karena novel ini mengambil sudut pandang sang Aquarius, seorang penanggung jawab masalah pengairan dalam kekaisaran Romawi. Api dan Air, dua unsur utama alam tersebut menjadi unsur utama dalam novel ini.

Marcus Attilius Primus adalah seorang Aquarius baru yang ditugaskan untuk mengawasi Aqua Augusta, sebuah saluran air sepanjang 96 km yang berawal di mata air Serinus di pegunungan Appenninus dan berakhir di Piscina Mirabilis, sebuah reservoir besar di kota pelabuhan Misenum. Saluran air terpanjang di dunia ini bertanggung jawab memenuhi kebutuhan air kota-kota di sekeliling teluk Neapolis: Pompeii, Nola, Acerrae, Atella, Neapolis, Puteoli, Cumae, Baiae, dan Misenum. Attilius ditugaskan untuk menggantikan Exomnius, Aquarius sebelumnya yang menghilang secara misterius.

Sebagai seorang Aquarius baru yang berusia muda, selain dihadapkan pada persoalan kepercayaan oleh anak buahnya, ia juga langsung dihadapkan pada permasalahan Augusta. Mulanya adalah keberadaan belerang yang mencemari air di kolam ikan Vila Hortensia dan membunuh ikan-ikan Mullet yang mahal, peliharaan sang jutawan, Numerius Popidius Ampliatus. Masalah berlanjut pada satu masalah besar yang harus segera ditangani: Aqua Augusta tiba-tiba berhenti mengalir di kota-kota yang dilewatinya kecuali Pompeii. Mengetahui bahwa hanya di Pompeii air masih mengalir dan bahkan berlimpah, Attilius memperkirakan bahwa sumber utamanya adalah Augusta mengalami kerusakan di suatu tempat di punggung Vesuvius. Maka dengan ijin dan surat penugasan dari Laksamana Gaius Plinius, ia bersama beberapa anak buahnya berlayar ke Pompeii untuk memperbaiki kerusakan Augusta, berpacu dengan waktu sebelum pasokan air benar-benar habis dan kekacauan pun terjadi.

Tidak mudah bagi Aquarius untuk menjalankan tugasnya. Selain ia harus dengan cepat menemukan sumber kerusakan Augusta, ia tergoda untuk mencari tahu sebab musabab menghilangnya Exomnius. Penyelidikan ala detektif pun dilakukannya sambil menjalankan tugasnya. Kecurigaan Aquarius mengarah kepada Ampliatus, jutawan mantan budak yang berhasil memanfaatkan kekacauan Pompeii akibat gempa besar yang pernah terjadi sebelumnya. Dengan bantuan Corelia Ampliata, putri sang jutawan yang baik hati dan menarik perhatian Attilius, Aquarius muda itu mengumpulkan bukti-bukti pelanggaran terhadap penyediaan pasokan air untuk vila-vila mewah dan kolam-kolam pemandian di Pompeii.

Pompeii, sebelum diluluhlantakkan oleh Vesuvius, serupa kota metropolitan pada jamannya. Pompeii menjadi lambang kemakmuran dan kemewahan sebuah peradaban. Arena gladiator, kolam-kolam pemandian dan tempat pelacuran dibangun di Pompeii untuk memanjakan dan memenuhi kebutuhan rekreasi dan hiburan warga Pompeii dan kekaisaran romawi pada umumnya. Aktifitas seksual menjadi sesuatu yang tidak tabu untuk dipertontonkan dan diperbincangkan, terlihat dari banyaknya lukisan dinding (fresco) erotis yang berhasil diketemukan setelah penggalian selama ratusan tahun.

Reruntuhan Pompeii pertama kali ditemukan oleh Domenico Fontana, seorang arsitek dalam penggaliannya menyusur sungai Sarnus pada tahun 1599. Namun, baru pada tahun 1748, dilakukan upaya serius untuk menggali reruntuhan kota kuno Romawi tersebut. Pada tahun 1860, Giuseppe Fiorelli memimpin penggalian dan ia menemukan ruang-ruang kosong dalam lapisan-lapisan abu vulkanik. Dengan teknik injeksi plester, tampaklah bahwa ruang-ruang kosong itu tercipta karena membusuknya tubuh manusia yang pernah menempatinya. Apa yang ditemukan selanjutnya benar-benar menggambarkan kengerian warga Pompeii menjelang detik-detik akhir kehidupan mereka.

Dalam novel ini, Robert Harris menggambarkan fase-fase terjadinya letusan -sebagaimana yang digambarkan oleh Plinius Muda- mulai dari terciptanya tiang letusan, mengalirnya magma, hujan batu apung secara terus-menerus, terciptanya gelombang panas letusan (piroklastik) yang menjalar dengan sangat cepat dan menghanguskan apapun yang dilewatinya, dengan mendetil. Membacanya, seolah tengah berada di tengah-tengah malapetaka. Dia pun berhasil menghidupkan suasana Pompeii berabad-abad lalu di saat kota itu tengah mengalami puncak kejayaannya. Kelebihan lain adalah penggambaran Aqua Augusta yang cukup signifikan sebagai salah satu pencapaian terbesar peradaban Romawi dalam bidang pembangunan sarana publik menyangkut pengadaan air.

Robert Harris telah sukses sebelumnya lewat novel-novelnya yang berlatar sejarah. Novel pertamanya adalah Fatherland (1992) yang merupakan sejarah alternatif ketika Jerman memenangkan Perang Dunia II, disusul dengan Enigma (1995) dan Archangel (1998). Pompeii diterbitkan pertama kali pada tahun 2003. Pada tahun 2006, dia menerbitkan Imperium, yang berkisah tentang kehidupan Cicero, orator ulung yang hidup pada jaman Romawi. Novel suksesnya yang lain adalah The Ghost (Penulis Bayangan).

Pompeii adalah sebuah novel sekaligus dokumentasi sejarah, juga kisah tentang bencana besar dan usaha manusia untuk menyelematkan dirinya. Mengetahui bahwa dalam waktu yang telah kita ketahui bersama, Vesuvius akan meletus dan menghancurkan peradaban di sekelilingnya, maka ketika kita membaca bahwa tokoh-tokoh protagonis di dalamnya tidak menyadari itu, meskipun tanda-tanda alam telah banyak menunjukkannya, seolah kita ingin berseru kepada tokoh-tokoh tersebut: cepat lari! gunung itu akan meledak!

Lewat sosok Attilius yang berpikir praktis novel ini seolah ingin mengedepankan pengamatan dan penyelidikan ilmiah daripada menyerahkan segala sesuatu kepada kepercayaan terhadap dewa atau mitos. Sosok Ampliatus adalah representasi dari jutawan korup yang berpikir bahwa dengan uang, segalanya bisa dilakukan. Robert Harris mempertemukan kedua sosok fiktif ini dengan sosok yang benar-benar ada yaitu Plinius Tua dan Plinius Muda, yang reputasinya dalam ilmu pengetahuan dan sejarah benar-benar diakui. Dengan ini seolah kedua tokoh fiktif benar-benar ada dan menjadi bagian dari sejarah Pompeii.

Jika suatu saat anda mendengar atau membaca legenda tentang pria dan wanita yang muncul dari dalam perut bumi setelah letusan Vesuvius berakhir, bisa jadi pria dan wanita itu adalah Marcus Attilius Primus dan Corelia Ampliata yang berusaha menyelamatkan diri dari letusan dahsyat Vesuvius. Dan inilah kisah mereka. (Adi Toha)

Judul        : Pompeii
Penulis        : Robert Harris
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Tahun        : Cetakan I, September 2009
Tebal        : 392 halaman

Tags: ,

2 Comments to “Pompeii – Robert Harris”

  1. PERRY says:


    Pillspot.org. Canadian Health&Care.Special Internet Prices.Best quality drugs.No prescription online pharmacy. High quality pills. Buy pills online

    Buy:Prozac.Lipothin.Amoxicillin.Aricept.Advair.Seroquel.Lipitor.Benicar.Ventolin.Cozaar.Female Cialis.Zetia.Acomplia.Zocor.Lasix.Nymphomax.Female Pink Viagra.SleepWell.Buspar.Wellbutrin SR….

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>