Jika Alan Moore pernah menulis The League of Extraordinary Gentleman yang mempertemukan tokoh-tokoh dari berbagai novel klasik dunia mulai dari Captain Nemo (tokoh ciptaan Jules Verne dalam 20.000 Leagues Under The Sea), Dr. Jekyl (tokoh ciptaan Robert Louis Stevenson dalam novel Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde), Dorian Gray (tokoh ciptaan Oscar Wilde dalam The Picture of Dorian Gray) dan tokoh-tokoh lainnya, maka Nugraha Wasistha mempertemukan tiga tokoh utama yang berbeda latar dan jaman dalam kisah 1001 malam di novel perdananya yang berjudul Sahara. Bahwa Alan Moore dan Nugraha Wasistha sama-sama bergiat di dunia komik, adalah sebuah kebetulan lain.

Lupakan sosok Aladdin yang lugu dan jin lampu yang konyol dan kocak di film Disney. Lupakan sosok Sinbad sang pelaut. Lupakan tentang Ali Baba dan 40 penyamun. Lupakan segala sesuatu tentang ketiganya yang kalian ketahui dari kisah 1001 Malam. Meski novel ini bercerita tentang Sinbad, Ali Baba dan Aladin serta Jin lampu yang bertemu dalam satu masa, namun novel ini menceritakan kisah yang sama sekali lain dari kisah yang kalian ketahui dari kisah 1001 malam.

Sinbad, seorang petualang cum mubalig yang berkelana ke seluruh penjuru dunia untuk mendakwahkan ajaran Islam. Ia memiliki slogan: tobat atau mati! Ia tidak sembarang berdakwah, yang menjadi sasaran dakwahnya adalah penjahat-penjahat kelas kakap. Satu-satunya penjahat yang tidak dibunuh karena berjanji akan bertobat adalah Abdul Karir. Bekas penjahat yang akhirnya menjadi saudagar kaya raya itu meminta bantuan Sinbad untuk menggagalkan rencana pencurian permata langka miliknya oleh seorang pencuri ulung di Istambul.

Ali Baba, bocah pencuri yang terkenal lihai dan tidak pernah gagal. Ia berencana mencuri permata paling langka di dunia yang dimiliki oleh Abdul Karir. Rencananya ini bahkan dikabarkan ke khalayak ramai dan menjadi taruhan banyak orang. Bertemulah Ali Baba dan Sinbad dalam sebuah aksi kejar-kejaran, terjun dari atap dan mendarat di atas tenda penjual buah, di antara kerumunan bazaar, dan melewati gang-gang sempit Istambul. Sewajarnya aksi pengejaran dalam film-film.

Di akhir pengejaran, Aladdin, seorang sultan muda tiba-tiba muncul di atas permadani terbangnya. Ia meminta bantuan keduanya untuk mengambil kembali lampu ajaib miliknya. Diceritakan, Aladdin terusir dari istananya di tengah gurun Sahara karena lampu ajaib dikuasai oleh istrinya. Aladdin berniat merebut dan menghancurkan lampu ajaib itu karena hendak kembali ke jalan yang benar.

Ketiganya mulai melakukan perjalanan menuju Sahara. Lewat dialog-dialog yang halus dan lancar, masing-masing tokoh berbeda latar belakang ini mulai saling mengenal lebih dalam. Ali Baba pernah mengalami peristiwa yang sangat pahit di masa kecilnya sehingga ia tidak mempercayai Tuhan. Sinbad memiliki alasan kenapa dia menjadi mubalig dan berjuang di jalan Islam. Aladdin berkisah tentang dirinya sebelum dan sesudah menemukan lampu ajaib, sampai akhirnya dia terusir dari istananya sendiri. Ali Baba yang cerdik dan tukang ngeyel, Sinbad yang keukeuh dengan dakwahnya dan Aladdin yang cenderung misterius menjadi kombinasi yang apik dalam menggulirkan petualangan-petualangan berikutnya yang akan mereka hadapi.

Kemunculan seseorang dari masa lalu Aladdin menambah cerita menjadi semakin menegangkan dan mengasyikkan sekaligus membuat penasaran. Mereka kemudian bersatu bahu membahu dalam menghadapi jin lampu yang tidak mudah begitu saja kembali ke tangan Aladdin. Jin lampu telah menyiapkan serangkaian jebakan, tipuan dan tantangan maut yang harus dilalui. Hanya yang berhasil selamat lah yang berhak menjadi Tuan dari jin lampu.

Seperti kecenderungan cerita petualangan yang berurusan dengan maut dan melibatkan sebuah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang, sebahaya apapun tantangan yang harus dihadapi, sang tokoh(-tokoh) utama selalu berhasil menyelamatkan diri dan tokoh(-tokoh) pembantu lah yang selalu menjadi korban. Demikian juga cerita petualangan dalam buku ini. Bisa ditebak, siapa saja yang akan selamat pada akhirnya untuk menuntaskan cerita. Teman bisa berubah menjadi lawan dan sebaliknya. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi kenikmatan dalam mengikuti kisah yang disajikan dalam buku ini. Penuturan yang cepat dan visualisasi adegan demi adegan laga yang tergarap dengan baik, membuat kisah petualangan ini sangat sayang untuk dilewatkan.

Lebih dari sekedar kisah petualangan, banyak pesan moral yang disampaikan lewat dialog-dialog dan perkembangan karakter tokoh-tokohnya. Bahwa selalu ada sisi baik pada setiap orang sejahat apapun orang itu, membuat Sinbad kembali mempertanyakan jalan dakwah yang telah dijalaninya. Terlebih, perdebatannya dengan Ali Baba yang tidak mudah begitu saja untuk diberi nasihat tobat dan selalu melontarkan kritik-kritik cerdas, membuat Sinbad mempertanyakan kembali akan kebenaran tindakannya dalam berdakwah.

Selalu ada misteri yang hendak diungkap di setiap cerita petualangan. Demikian halnya ada misteri besar dibalik lepasnya lampu ajaib dari tangan Aladdin. Misteri yang dijaga oleh pengarang dan baru diungkap secara mengejutkan di bagian akhir. (Adi Toha)

Judul Buku : Sahara – Ketika Aladdin, Ali Baba, dan Sinbad Bertarung dengan Jin Sakti
Pengarang : Nugraha Wasistha
Penerbit : Serambi
Cetakan : Agustus 2009
Tebal : 335 Halaman

Tags: ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>