Survival Games, Dystopian Society, Love Story and Reality Show
Saya heran, kenapa buku ini di negera asalnya dikategorikan ke dalam buku anak-anak dan remaja. Padahal, membaca konsep dan muatan di dalamnya, buku ini layak untuk dikategorikan ke dalam buku dewasa. Sementara anak-anak dan remaja di negara kita disuguhi bacaan-bacaan klise percintaan ala teenlit, di negara lain telah disuguhi The Hunger Games yang penuh dengan alegori kekinian, pertarungan hidup dan mati dan gambaran peradaban yang “sakit”.
The Hunger Games berlatar di sebuah negara distopis yang berdiri di atas reruntuhan Amerika Utara setelah serangkaian malapetaka, bencana peradaban, badai, kekeringan, kelaparan dan perang. Negara itu bernama Panem yang berpusat dan dikendalikan oleh Capitol. Di luar Capitol adalah 13 distrik yang secara kualitas peradaban jauh berbeda dengan Capitol. Sebagai hukuman atas pemberontak distrik pada masa lalu, distrik ke 13 dibumihanguskan dan 12 distrik lainnya terikat pada sebuah perjanjian perdamaian yang bernama Hunger Games, di mana setiap tahunnya, masing-masing distrik harus mengirimkan seorang anak perempuan dan lelaki untuk perlombaan bertahan hidup dan bertarung sampai mati di sebuah arena maha luas dalam sebuah acara reality show yang ditayangkan secara langsung di televisi. Dengan Hunger Games, Capitol seolah-olah hendak menyampaikan pesan “Lihat bagaimana kami mengambil anak-anakmu dan mengorbankan mereka, dan tak ada yang bisa kaulakukan untuk menghalanginya.”(hal. 26)
Katniss Everdeen, gadis 16 tahun dari distrik 12 yang memiliki keahlian berburu dan memanah, mengajukan diri menggantikan adik perempuannya yang terpilih menjadi peserta Hunger Games. Bersama Peeta Mallark, anak seorang tukang roti, keduanya menjadi perwakilan dari distrik 12 untuk bertarung dengan 22 peserta dari distrik lain. Distrik yang memenangkan Hunger Games akan mendapatkan hadiah-hadian dan kemewahan yang berlebih dari Capitol. Namun hanya akan ada satu pemenang dalam Hunger Games, hal ini berarti mau tidak mau, jika ia ingin bertahan hidup dan memenangkan pertarungan, demi keluarganya dan distriknya, ia harus membunuh Peeta yang sekali waktu pernah menolongnya saat ia dilanda kelaparan.
Buku ini dituturkan lewat pandangan Katniss, pembaca diajak mengikuti tahap demi tahap Hunger Games, sebuah acara pembantaian yang telah menjelma menjadi sebuah perayaan dan budaya pop yang disebarkan lewat media televisi. Sebelum pertarungan dimulai, para peserta dirias dan didandani seolah hendak menghadiri perhelatan akbar sebuah peragaan busana. Wawancara terhadap para peserta pun dilakukan ala talk show selebritas, dengan puluhan kamera yang siap menyiarkannya secara langsung ke seluruh penjuru Panem. Semuanya dilakukan demi kemewahan acara televisi dan kepuasan penonton. Sementara dalam pertarungan nantinya, para peserta akan saling bantai demi bertahan hidup dan menang. Sebuah perayaan yang absurd dalam menjemput kematian.
Dalam arena Hunger Games, apa yang tampak nyata bisa jadi hanyalah artificial dan apa yang tampaknya artificial justru bisa jadi adalah yang benar-benar nyata. Para juri bisa melakukan apapun terhadap arena demi membuat pertarungan lebih seru dan menegangkan. Kamera-kamera tersembunyi telah ditempatkan di mana-mana, siap untuk merekam dan menyiarkan setiap perilaku dan perkataan para peserta kepada para penonton. Hal-hal kecil yang dilakukan dan dikatakan oleh para peserta juga menentukan ada tidaknya sponsor yang akan mengirimi mereka hadiah-hadiah. Hadiah-hadiah dari sponsor sampai kepada para peserta lewat sebuah parasut kecil yang mendarat tepat di dekat peserta di manapun peserta berada dalam arena Hunger Games. Oleh karena itu, Katniss harus memperhitungkan setiap gerak-gerik dan perkataannya apakah bisa mengundang simpati dan emosi para penonton dan sponsor, termasuk benih-benih cintanya terhadap Peeta yang sedikit demi sedikit timbul selama berlangsungnya pertarungan.
Katniss memiliki semua bakat untuk menjadi pemenang. Selain ia telah terbiasa hidup di hutan, berburu binatang buruan dengan panahnya, dan mengenali tumbuh-tumbuhan yang bisa digunakan untuk obat dan bahan makanan. Sudah bisa dipastikan bahwa Katniss lah yang akan memenangkan Hunger Games. Tentunya, orang tidak akan rela bersusah payah membaca kisah pertualangan dan pertempuran seorang gadis semenarik dan dengan karakter yang kuat, hanya untuk mendapati gadis tersebut mati pada akhirnya. Bagaimana Katniss menjalani proses menuju pemenangan itulah buku ini diceritakan, tentunya dengan beberapa kejutan dan perkembangan karakter Katniss seiring bergulirnya Hunger Games.
Lewat The Hunger Games, Suzanne Collins seolah ingin menunjukkan kegamangan identitas manusia di bawah tekanan budaya televisi. Acara-acara reality show yang seringnya mengklaim bahwa apa yang ditayangkan adalah benar-benar realitas, tidak jarang penuh dengan manipulasi demi memanjakan penonton. Bahkan, lebih dari sekedar alat hiburan, televisi pun menjadi alat bagi penguasa sebagai media propaganda untuk menegaskan kekuasaannya. Realitas yang tampak dan ditampakkan dalam televisi menjadi ambigu dan artificial. Realitas dalam pentas. Realitas manipulatif.
The Hunger Games adalah buku pertama dari trilogi yang telah direncanakan. Buku kedua berjudul Catching Fire dan buku ketiga Mockingjay. Dalam waktu dekat novel ini akan diadaptasi ke dalam bentuk film. (Adi Toha)
Judul buku : The Hunger Games
Pengarang : Suzanne Collins
Penerjemah : Hetih Rusli
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Oktober 2009
Tags: Gramedia, Suzanne Collins