Membaca blurb di sampul belakang buku ini setidaknya ada dua hal yang bisa saya perkirakan. Pertama, ada dua tokoh utama yaitu Danny dan Ray, dan novel ini adalah kisah keduanya. Meskipun masing-masing tokoh menjalani alurnya sendiri-sendiri, entah bagaimana, pada satu titik pasti akan dipertemukan. Selanjutnya, novel ini sepertinya novel misteri bahkan cenderung horor. Ada penyebutan tentang kastil abad pertengahan, supranatural, hantu masa lalu, pintu rahasia dan kisah-kisah orang mati. Ternyata, prediksi saya tidak sepenuhnya benar.

Dibayang-bayangi oleh perlakuan buruk terhadap sepupunya Howard di masa kecil, Danny justru diundang oleh sepupunya itu ke sebuah kastil miliknya di daerah perbatasan antara Austria, Jerman dan Republik Ceko. Sekian lama tak bertemu, Howard yang telah berubah menjadi pialang saham kaya raya membeli kastil abad pertengahan dan dengan bantuan Danny, hendak merenovasinya menjadi sebuah hotel yang unik. Dari keramaian kota New York, Danny tiba-tiba harus berada dalam kesunyian kastil yang telah berdiri selama berabad-abad.

Danny adalah tipikal manusia moderen yang tidak bisa lepas dari teknologi dan informasi. Kebutuhan mendasarnya adalah untuk selalu terhubung dengan dunia luar entah itu lewat telepon seluler atau internet. Hal pertama yang dilakukannya sampai di kastil sepupunya itu adalah mencari tempat di mana dia bisa meletakkan piringan satelit yang dibawanya, sehingga ia tetap bisa menggunakan telepon selulernya untuk berinteraksi dengan dunia luar dan mengakses internet.

Bagi Danny, pikiran bahwa dia akan menghilang terasa lebih buruk daripada mati. Kalau kau mati, ya sudah. Tetapi hidup namun tidak terlihat, tidak bisa dihubungi, tidak bisa ditemukan –itu akan seperti salah satu mimpi buruk yang biasa didapatnya, ketika dia tidak bisa bergerak, ketika dia seperti mati dan semua orang menyangka dirinya mati, tetapi dia masih bisa merasakan dan mendengar semua yang terjadi. (hal. 64)

Sedangkan Howard justru ingin menjadikan kastil itu sebagai hotel yang sama sekali terbebas dari teknologi. Ia ingin pengunjung hotelnya kelak merasakan seperti tengah berada di abad pertengahan ketika kastil itu dibangun. Apa yang ada di benak sepupunya itu adalah kelak hotelnya akan menawarkan wisata imajinasi abad pertengahan dengan segala kisah dan takhayulnya, hantu-hantu dan malaikat-malaikatnya. Kesunyian dan kekunoan kastil beserta lorong-lorong bawah tanahnya akan mengembalikan sesuatu yang telah lama hilang dari kehidupan orang-orang modern: imajinasi. “Biarlah orang-orang menjadi turis dari imajinasi mereka sendiri.” Demikian misi Howard dengan hotel kastilnya.

Orang-orang sudah bosan. Sudah mati! Pergilah ke pusat perbelanjaan dan lihat wajah-wajah mereka. Aku melakukan ini bertahun-tahun –aku pergi ke mal-mal pada akhir pekan dan hanya duduk memperhatikan orang-orang, mencoba memikirkannya. Apa yang hilang? Apa yang mereka butuhkan? Apa langkah selanjutnya? Lalu aku mendapatkannya: imajinasi. Kita kehilangan kemampuan mencipta. Kita mengalihkan pekerjaan itu ke industri hiburan, dan kita duduk saja meneteskan air liur serta membiarkan mereka melakukannya untuk kita. (hal. 65)

Di sebuah penjara modern, Ray, seorang narapidana kasus pembunuhan tengah mengikuti sebuah kelas menulis yang diajarkan oleh Holly, perempuan muda yang menarik perhatian Ray. Holly mengajarkannya tentang sebuah pintu. Pintu yang bisa membawa ke mana saja. Pintu di dalam kepala. Pintu imajinasi! Dan Ray telah membukanya dengan menuliskan cerita Danny.

Membaca beberapa halaman awal novel ini, kita tidak akan tahu jika Egan menggunakan Ray sebagai narator. Mulanya seolah pengarang lah narator itu sendiri. Ray mulai menyusup ke dalam narasi Danny dengan memperkenalkan dirinya sendiri. “Kau? Siapa sih kau? Itulah yang pasti dikatakan seseorang saat ini. Yah, akulah pria yang sedang bicara”(hal. 28). Dari sini lah elemen metafiksi dalam bentuk cerita di dalam cerita atau cerita seorang pengarang dalam menuliskan ceritanya, mulai terbangun. Cerita mulai berpindah-pindah antara narasi Ray tentang Danny dan kastilnya, dengan sudut pandang orang ketiga dan narasi Ray tentang dirinya sendiri dan kehidupannya di penjara, dengan sudut pandang orang pertama.

Baik Danny maupun Ray adalah individu yang ingin keluar dari kenyataan hidup yang mengurungnya. Pintu yang membatasi Danny dengan dunia luar dan informasi adalah pagar kastil dan rencana Howard atasnya. Dibayangi oleh masa lalu, Danny seolah merasakan paranoia bahwa sepupunya itu hendak melakukan balas dendam atas perlakuan Danny semasa kecil. Danny pernah meninggalkannya sendirian di dalam dua selama 3 hari sampai Howard hampir mati. Sedangkan pintu yang membatasi Ray dengan dunia luar tentu saja tembok dan pagar berduri penjara. Cerita keduanya berinterferensi lewat “pintu” di kepala Ray, dengan narasi tentang Danny cenderung lebih banyak dari pada Ray. Pada bagian terakhir novel adalah narasi dengan sudut pandang Holly. Guru mengarang Ray itu menyatukan kepingan-kepingan cerita menjadi satu cerita yang utuh serta menambah porsi cerita tentang Ray.

Penelusuran Danny melalui bagian-bagian kastil, melewati pintu-pintunya, mempertemukannya dengan Baroness von Ausblinker yang menghuni bagian menara benteng. Perempuan tua itu bersikeras tidak ingin meninggalkan kastil yang dianggapnya adalah peninggalan leluhurnya. Howard menghormati perempuan tua itu dan tidak ingin mengusik kediamannya. Menurutnya, keberadaan baroness justru akan semakin menambah daya tarik hotelnya.

The Keep, adalah sejenis novel yang relatif tidak mudah dibaca, terutama karena kompleksitas cerita dan karakter tokoh-tokohnya. Dari segi penulisan, Egan (Ray) tidak menggunakan tanda kutip untuk menandakan dialog tokohnya. Ini cukup membingungkan mengingat narrator berubah-ubah dari satu tokoh ke tokoh yang lain dengan cepat.

Bermacam elemen cerita hantu bernuansa gothik terdapat dalam novel ini: kastil abad pertengahan, baroness tua misterius, cerita kematian dua bocah dalam kolam, dan lorong-lorong rahasia yang tersembunyi di bawah kastil cukup menyeramkan meski tidak cukup menegangkan. Namun novel ini bukanlah semata-mata cerita hantu, melainkan cerita tentang kebimbangan kejiwaan antara yang nyata dan yang khayal. Bagaimana perubahan situasi menyebabkan perubahan reaksi masing-masing tokohnya. Bagaimana trauma masa lalu menghantui. Bagaimana sebuah “pintu” di kepala bisa membuatmu pergi ke mana saja. Sebuah metafiksi yang berani, menghibur dan merangsang imajinasi, meski cukup membuat kening berkerut saat membacanya. (Adi Toha)

Judul Buku : The Keep
Penulis : Jennifer Egan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : Cetakan I, November 2009
Tebal : 319 Halaman

Tags: ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>